Oleh: Jia Effendie
Lagi-lagi, lagu itu menggelitik kepalaku. Tak hanya kepalaku, tentu, ada bagian lain yang tergelitik. Dan kali ini, lagu itu menggelinding dalam udara di mall besar ini, di tengah keramaian malam minggu.
Jangan salahkan aku jika aku menginginkannya. Tetapi siapa suruh membuat lagu seksi seperti itu?
Coba dengarkan, baca liriknya:
Lay, lady, lay, lay across my big brass bed
Apa yang terbayang di kepalamu?
Whatever colors you have in your mind
I’ll show them to you and you’ll see them shine
I’ll show them to you and you’ll see them shine
Katakan padaku, apa warnamu. Sungguh, aku bisa membuatmu bersinar. Merah, kuning, biru, hijau, berikan padaku semua warna pelangi, aku kan membuatmu bersinar. Bukankah kita tak pernah menyinari satu sama lain? Ah, aku meracau.
Aku bergegas. Mall ini terlalu sesak, aku bahkan lupa apa niatku ke sini. Tiba-tiba aku teringat seseorang. Aku berbalik, bergegas keluar. Menuruni lift menuju tempat parkir.
“Halo?” suara di ujung telepon mendesah. Ah, suaranya memang selalu mendesah begitu. Lembut, basah, mendesah.
“Hai Putri, ini aku.”
“Aku tahu,”
“Kamu bohong. Ini kan nomor baru.”
“Udah feeling, masa sama pacar sendiri ga kenal?” Suara tawanya bergema, menggelitik telingaku, menggelitik bagian tubuh yang lain.
“Aku ke situ, ya?”
“Whatever you said,” Klik. Dia menutup teleponnya lebih dulu.
***
Apartemennya masih sama sejak terakhir kali aku mengunjunginya. Sudah setahun. Ya, sepertinya sudah setahun aku tidak pernah berhubungan lagi dengannya. Tidak bertemu dengannya. Mengapa tiba-tiba aku ingin berada di dekatnya?
Dia menyukai keteraturan. Makanya kamarnya tidak berubah, tak ada debu seujung jari pun. Bahkan interiornya pun tak berubah, makanya aku yakin dia tidak akan mengubah nomer teleponnya. Mudah sekali menemukannya. Mudah sekali. Dia selalu melakukan hal yang sama setiap hari, datang ke tempat yang sama setiap hari.
Hari sabtu seperti ini, biasanya dia memang tinggal di apartemennya. Cuti dari suami, dia selalu bilang begitu. Baginya, harus ada satu hari khusus untuk dirinya sendiri, hari di mana dia boleh melakukan apa pun yang diinginkannya. Tanpa suami.
Dan dia langsung mengiyakan ketika aku bilang aku akan datang ke tempatnya.
“Tadinya aku mau membaca semalaman. Tapi karena kamu mau datang, itu lebih baik.”
Dia membukakan pintu, hanya mengenakan jubah mandi.
“Baru mandi?” tanyaku.
“Enggak, biar gampang dibuka aja,” jawabnya.
“Emang aku kesini mau ngapain?”
“Ga tau, kan kamu yang ke sini. Bukan aku yang nyuruh, kan?” dia melengos tanpa mempersilakanku masuk, lalu masuk selimut. Di tangannya sebuah novel harlequin.
Aku menutup pintu dan mengikutinya.
“Sejak kapan kamu baca harlequin?”
“What’s wrong with that?”
“You don’t read those kind of stuffs.”
“Well, I changed.” Dia tertawa lagi, tawanya renyah, aku ingin menerkamnya. “Mau ikutan baca?” tanyanya.
“I have to pee,” aku menyeringai dan berbelok ke toilet.
***
Suara Bob Dylan terdengar ketika aku keluar toilet. Dia sudah tidak memakai jubah mandinya, tubuhnya tersembunyi di bawah selimut.
His clothes are dirty but his hands are clean
And you’re the best thing that he’s ever seen
Stay, lady, stay, stay with your man awhile
Why wait any longer for the world to begin
You can have your cake and eat it too
Why wait any longer for the one you love
When he’s standing in front of you
Why wait any longer for the world to begin
You can have your cake and eat it too
Why wait any longer for the one you love
When he’s standing in front of you
“C’here,” ujarnya sambil menepuk-nepuk bantal di sebelahnya. Aku menurut, dan menenggelamkan tubuhku di balik selimut. Tanganku bergesekan dengan kulitnya yang telanjang. Dia menyingkirkan bukunya dan menghadap ke arahku, lalu mencium bibirku.
“Kamu bilang apa ke suamimu?” tanyanya sambil terus mencumbuku.
“Mau belanja. Sudah, jangan pikirkan dia!”
Aku menjawab sambil memagut lidahnya.
Depok | 8/7/2010 9:52:36 PM
Lay, Lady, Lay (Bob Dylan)
Lay, lady, lay, lay across my big brass bed
Lay, lady, lay, lay across my big brass bed
Whatever colors you have in your mind
I’ll show them to you and you’ll see them shine
Lay, lady, lay, lay across my big brass bed
Whatever colors you have in your mind
I’ll show them to you and you’ll see them shine
Lay, lady, lay, lay across my big brass bed
Stay, lady, stay, stay with your man awhile
Until the break of day, let me see you make him smile
His clothes are dirty but his hands are clean
And you’re the best thing that he’s ever seen
Stay, lady, stay, stay with your man awhile
Until the break of day, let me see you make him smile
His clothes are dirty but his hands are clean
And you’re the best thing that he’s ever seen
Stay, lady, stay, stay with your man awhile
Why wait any longer for the world to begin
You can have your cake and eat it too
Why wait any longer for the one you love
When he’s standing in front of you
Why wait any longer for the world to begin
You can have your cake and eat it too
Why wait any longer for the one you love
When he’s standing in front of you
Lay, lady, lay, lay across my big brass bed
Stay, lady, stay, stay while the night is still ahead
I long to see you in the morning light
I long to reach for you in the night
Stay, lady, stay, stay while the night is still ahead
Stay, lady, stay, stay while the night is still ahead
I long to see you in the morning light
I long to reach for you in the night
Stay, lady, stay, stay while the night is still ahead
this song are really sexy, and jia write it in a sexy way too..
BalasHapusLove it,
you're wild Jia, WILD =))
cerpen kamu juga wild, rahne. aku tidak mengira ketika kamu pake lagu Sepasang Kekasih yang Bercinta di Luar Angkasa, kamu akan memasukkan unsur bercintanya juga.
BalasHapusEhem :))
Ehehm...
BalasHapuskalian berdua hebat...
as_3d
yang ini bagus, temanya menarik dan sudut pandangnya menurut gw pas.. kalau dijadikan cerpan mungkin konflik dan karakter tokoh2nya akan lebih terlihat, meskipun dari tulisan ini udah bs kebayang gimana kompleksitasnya ^_^
BalasHapushmmm, belum berniat untuk memanjangkannya sih. soalnya agak-agak kurang mendalami karakter yang memiliki kecenderungan demikian. makanya ini pun dibiarkan mengambang, karakterisasi dan settingnya ga terlalu dalam dan detail.
BalasHapusagak tepu juga, kirain sm laki2, taunya sama-sama perempuan. wow. :o
BalasHapusstunning yet wild! :)
WOW!! Cinta kaum hawa selalu membawa daya tarik magnet buat saya. Entah mengapa, saya ingin sekali meneliti dan membuka lembar kehidupan kaum lezt. Hanya saja saya belum memliki akses yg cukup utk diarahkan kesana. Tp saya sudah berteman dengan beberapa kaum lezt yang menurutku begitu unik dan menawan. Begitu kompleks rasa yang mereka hadapi. The butch and the femme, begitu kira-kira mereka memisahkan karakter berbeda dr satu jenis kelamin. Tulisan ini unik sekaligus sexy. Saya menunggu pengembangannya. Meskipun biasanya tulisan mengenai mereka memiliki sad ending. Contohnya, dalam buku Gerhana Kembar dan Garis Tepi Lesbian. Buku-buku dan tulisan seperti ini biasanya mengungkapkan lust dan juga cinta yg penuh tragedy. Tulisan diatas hanyalah sepenggal peristiwa dari banyak kejadian unik lainnya. Saya mendorong penulis untuk melanjutkan ceritanya. Semangat!!!!
BalasHapus