Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Minggu, 08 Agustus 2010

"Love The Way You Lie"

Oleh : 17thstarlight
Blog : http://firglobe.wordpress.com 

Aku menatap kosong ke arah lantai. Kedua tanganku menekuk ke belakang punggung, terikat di tiang besi, setengah mati rasa. Benda yang kududuki tidak bisa dibilang kursi. Ini cuma besi memanjang di tengah ruangan, dinginnya menjalar ke seluruh tubuhku. Kedua kakiku menggantung, diikat kuat dengan tambang sampai telapak dan punggung kakiku berdenyut-denyut. Yah, setidaknya itu membuat telapak kakiku tetap hangat. Kepalaku limbung, bukan karena pukulan benda keras, tetapi karena benda yang membawaku ini terombang-ambing oleh ombak. Ini hari ketigaku terkurung dalam sebuah kapal, yang aku tidak tahu seperti apa rupa luarnya.

Tiga hari lalu aku terbangun sudah dalam kondisi seperti ini, penuh kebingungan dan meraung-raung. Tapi tidak ada seorang pun yang datang menolong. Lalu aku sadar aku ada di dalam sebuah kapal di tengah-tengah lautan yang entah ada di titik mana dalam peta. Aku ketakutan, apa seseorang menginginkanku hanyut menghilang di tengah laut. Tapi tidak, kalau dia ingin membunuhku, kenapa tidak mengikatku saja ke batang pohon yang berat lalu menenggelamkanku ke dasar laut. Lagipula pasti ada seseorang yang mengemudikan kapal ini. Bayangan beberapa orang beserta motifnya muncul di kepalaku, aku terus menerka-nerka sampai tertidur.

Hari kedua, aku terbangun dengan sangat lapar. Aku berteriak lagi..memanggil, memaki, merintih, sampai menangis. Tetap tidak ada yang datang. Aku melihat sekitarku, tak ada apapun yang tampaknya bisa kumakan. Siapapun yang menyekapku di sini, pasti berniat membuatku mati perlahan. Supaya apa? Supaya dia bahagia membuatku menderita? Yah, tampaknya aku tidak punya pilihan lain. Setidaknya aku bisa membuat seseorang bahagia, pikirku putus asa.

Hari ini, aku sudah mulai lemas. Mulai mengira-ira kapan akan bertemu sang Pencabut Nyawa. Masa lalu berkelebatan di benakku: Hari pertamaku masuk sekolah. Hari saat aku melihat ibu terakhir kali. Hari pertama aku belajar melukis. Hari pertama aku mendapat surat cinta. Hari di mana aku membaca pengumuman beasiswa. Hari ketika ayah tergopoh-gopoh datang menemuiku di rumah sakit. Hari Itu.

Tiba-tiba ada suara sepatu beradu dengan lantai, semakin lama semakin  jelas. Jantungku berdegup, hampir terpental saat pintu di depanku menjeblak terbuka. Sosok itu berada dalam bayangan gelap, kelopak mataku berkerut mencoba mengenalinya. Dia berjalan maju beberapa langkah, salah satu bayangan yang kuterka dua malam lalu.

Dia duduk di sebuah kursi kayu di arah nol derajat-ku. Punggungnya membungkuk ke depan, mengulurkan botol air dengan tangan kanannya ke arah wajahku. Aku tak bergeming, dan dia mengulurkan tangan kirinya untuk memaksaku membuka mulut. Air itu menggeloyor ke dalam kerongkongan & tenggorokanku dalam saat yang bersamaan, membuatku tersedak.

“Kau harus minum.” katanya dingin. “Aku tidak ingin kau mati secepat itu.

Aku menyipit sinis. “Kenapa kau menyekapku?”

“Karena aku ingin kau melihatku mati.” katanya tenang. Dia mundur untuk bersandar pada kursinya, lalu menaikkan kaki kanannya di atas kaki kirinya.

“Racunmu berhasil. Itu akan membunuhku tepat 72 jam lagi.” katanya yakin.

“Jadi kau sudah tahu.” kataku tanpa terkejut. “Apa kaupikir aku akan merasa bersalah melihatmu mati?” tanyaku sinis.

“Tidak. Tapi kau akan menemaniku mati. Air tadi sudah kuracun dengan dosis yang tepat agar kau mati bersamaan dengan nafas terakhirku.” dia tersenyum tipis.

“Jadi, nikmatilah hari-hari terakhirmu.. tak perlu repot memikirkan keinginan terakhirmu, karena aku tidak akan mengabulkannya.” matanya berkilat penuh kemenangan.

Dia berdiri, beranjak ke arah dia datang, menutup dan mengunci pintu di belakangnya. Kudengar langkah kakinya menjauh sampai tak terdengar lagi.

Dan di sinilah aku. Menunduk, menatap kosong ke arah lantai. Aku berbicara sendiri ”Jadi dia meracuniku juga. Aku akan mati juga.”. Hening beberapa saat. “Tidak apa,” batinku. “dia memilih untuk mati bersamaku, bukan di sampingnya. Itu sudah cukup.”

Di kepalaku bergaung sebuah lagu.. “Just gonna stand there, & watch me burn..but that’s alright because I like the way it hurts. Just gonna stand there & hear me cry..but that’s alright because I love the way you lie. I love the way you lie.” (Eminem-Rihanna)

5 komentar:

  1. keren! ga ketebak alurnya yg saling meracun itu, and i love the song :D

    BalasHapus
  2. Aaah, nanggung niih.
    Motif si aku yang disekap ga ketauan, kenapa dia ngeracun?

    BalasHapus
  3. @naraheera : makasiiiiihh ^__^ I love this song too..

    @jiaeffendi : motif 'aku' yg disekap meracuni 'dia' krn 'dia' pernah memilih untuk bersama 'nya'. Ga tersampaikan dg jelas ya? Okay kuperbaiki lg di cerita2 selanjutnya, thanx ya komennya :)

    BalasHapus
  4. Semakin cepak sebuah tulisan semakin gamang inti ceritanya. Tapi saya menyukai ini. Saya suka cerita dimana saya harus menebak-nebak sendiri bagaimana awal dan akhir dr cerita ini. Kalau pernah nonton Inception by Di caprio, itu juga salah satu film yg harus mikir. Tidak di lenakan dgn cerita yg frontal. Ini bagus. Kemungkinan penulis cerita ini salah satu FMerz ya??? hehehehhe

    BalasHapus
  5. @socrateslover : Wow..saya terkesima dg komentarnya ;) Thanx a lot ya!
    btw FMerz itu apa?

    BalasHapus

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!