Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Kamis, 05 Agustus 2010

"Negeri Tanpa Waktu"

Oleh: 17thstarlight
http://firglobe.wordpress.com/

Tidak ada Tua-Muda. Tidak ada Awal-Akhir. Tidak ada Siang-Malam. Tidak ada istilah ‘terlambat’. Kau berlari, tapi tidak tahu berapa kecepatanmu. Kau merasa sudah sangat lama berada di tempat ini, tapi kau tidak tahu pasti berapa umurmu. Kau mencoba menerka dari tonggak-tonggak besi yang menyangga jembatan, tapi tonggak-tonggak itu selalu tampak baru. Kau tidak tersesat, tapi kau merasa terdisorientasi.
Kau berhenti, lalu bertanya pada penjual buah di pinggir jalan, berapa lama menunggu buah-buah masak di pohon. Penjual itu menggeleng dan tersenyum. “Ini selalu matang. Aku hanya memetiknya saja.” katanya.
Kau berjalan lagi. Berpapasan dengan sekelompok anak berseragam sekolah. Ceria sekali mereka, pikirmu. Mereka ingat datang dalam wujud kanak-kanak, tapi tidak ingat kapan. Dan mereka akantetapmenjadi kanak-kanak. Kau mulai merasa janggal, tapi tak kunjung menemukan jawaban.
Sebuah suara dari gedung di sebelah kiri membuatmu menoleh. Tampak seekor burung mengepak-ngepakkan sayapnya di atap gedung. Sorot matanya seolah mengatakan, “Gedung ini milikku.”. Sorot mata itu cukup menakutkan, tapi sesuatu yang lain menarik perhatianmu : Secarik surat yang terselip di sela pintu gedung itu. Sesuatu di permukaannya memantulkan cahaya lampu taman—yang terletak beberapa meter dari pintu itu. Kau mendekat, penasaran. Semakin dekat, kau mulai melihat jelas apa yang menyebabkan pantulan itu. Itu bukan surat. Itu cermin yang retak dan sebagian retakannya telah lepas. Kau mengambil cermin itu, melihat ke dalam sisa retakannya. Bayangan yang bukan wajahmu, membuatmu terkejut dan hampir menjatuhkannya.
“Kenapa lama sekali?” bisik bayangan itu.
“Apa?” katamu bingung sambil bergidik.
“Aku sudah menunggumu untuk membebaskanku.” kata bayangan itu lagi.
“Dari cermin ini?” tanyamu masih bingung, mulai tenang menyadari bayangan itu tidak menyeramkan setelah diperhatikan dengan seksama. Hanya tampak sangat lelah.
“Dari stagnasi.” kata bayangan itu menghela nafas.
Dahimu berkerut, masih tidak mengerti.
“Kau tidak merasa lelah dengan stagnasi-mu? Kau tidak bertambah tua. Anak-anak tidak bertambah besar. Benih-benih tidak bertumbuh. Telur-telur tidak menetas. Setiap kali kau berjalan, sekelilingmu tampak sama. Apa kau tidak lelah?” tanya bayangan itu lembut.
Kau mulai mencari kata yang tepat untuk rasa itu, rasa yang telah lama mengganjal. Apakah itu lelah?
“Kau bisa terus menjalani kehidupan seperti ini, atau kau memecahkan seluruh cerminku yang tersisa.” kata bayangan itu mengerling.
“Tapi.. kenapa kau bisa terperangkap di dalam situ? Siapa kau sebenarnya?” kau bertanya curiga.
“Aku ada di dalam cermin ini karena orang-orang tidak menyukaiku. Mereka ingin bersembunyi dariku, melupakan bahwa aku ada.” jawab bayangan itu, matanya menerawang.
“Lalu.. apa yang akan terjadi jika aku memecahkan cerminmu?” tanyamu tidak yakin.
“Sesuatu akan hadir di negeri ini. Dimensi ke-4.” jawab bayangan itu mantap.
“Apa dimensi ke-4 itu bisa menghilangkan lelahku?” tanyamu meminta kepastian.
“Kau mungkin masih akan merasa lelah sesekali, tapi tidak ada yang sebesar kelelahanmu saat ini. Akan ada perubahan di setiap hal yang kau jumpai. Segalanya akan berbeda.” kata bayangan itu, matanya berbinar-binar.
“Baiklah.” sahutmu, mulai tertarik.
“Tapi bagaimana dengan kau? Apa kau akan hancur dan menghilang?” tanyamu cemas.
Senyum bayangan itu mengembang. “Tidak. Seperti yang kubilang, aku akan bebas. Karena aku adalah dimensi ke-4 : WAKTU.”

2 komentar:

  1. @admin : yg ini tema-nya DONGENG :)

    BalasHapus
  2. @Admin (lagi) : Oya boleh tolong link email di atas diganti dg link blog (http://firglobe.wordpress.com)? setelah dipikir-pikir kurang nyaman mem-publish alamat email. Terimakasih sebelumnya ya, maaf merepotkan.. ;p

    BalasHapus

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!