#Sesi Interpretasi Lagu
Oleh: Farida Susanty
Insignificantlyimportant.tumblr.com
Inspired by “Baby” by Justin Bieber. Iya Bieber.
Aku meliriknya dari sudut ruangan. Tubuhnya di atas tempat tidur. Dadanya bergerak naik turun dengan teratur. Matanya terpejam. Dan malam ini, oh, dia memakai baju yang sedikit menggelitik kelenjar ludahku. Kakinya bergerak-gerak sekali-kali. Aku berpikir tentang apa yang dia impikan di dalam sana.
Bodoh, biasanya dia bangun dan menemuiku jam segini. Aku tidak menyangka dia benar-benar serius ketika bilang dia tidak ingin bertemu denganku lagi. Dia tahu bahwa aku sangat menyukainya. Dan aku tahu dia peduli padaku. Dia tahu bahwa aku tergila-gila padanya sejak pandanganku pertamakali menempel di tubuhnya, dan aku akan datang kapanpun dia menginginkanku. Aku mengikutinya kemanapun dia pergi.
Bagaimanapun dia cinta pertamaku. Dan aku pikir dia akan jadi milikku selamanya.
Perlahan aku mendekatinya.
Kujulurkan tanganku ke arahnya. Aku selalu tidak dapat menahan diri untuk menyentuhnya. “Sayang, Sayang…” bisikku, mendekati telinganya. “Sayang, Sayang, oh… Sayang… Tidak… jangan tinggalkan aku…” Aku berbisik lagi, merasakan rasa sakit yang meledak-ledak di dadaku.
Kulitnya terasa hangat. Aku mengelus-elus lembut lengannya.
***
Aku tidak percaya dia akan melakukan ini padaku. Aku pikir dia akan menjadi milikku selamanya. Karena aku selalu bisa melihat bahwa kami akan selalu bersama. Karena dia… sebodoh kedengarannya, adalah cinta pertamaku.
Bodoh.
Pagi itu aku berjalan pelan dan mendekatinya di kamar mandi. Dia sedang memakai baju sekolahnya, putih abu-abu. Dia masih mengancinginya satu per satu.
“Sayang—“ panggilku, menepuk bahunya.
“Cari cewek lain,” Dia menunduk, mengoleskan lip gloss di bibir kecilnya. Aku tahu banyak remaja laki-laki di sekolahnya yang diam-diam memimpikan bibir dengan lip gloss itu. Pahatan wajahnya begitu indah. Ketika dia membuangku seperti ini pun, aku masih bisa melamunkan tentang dirinya. Dia dulu… menyayangiku.
“Aku bisa memberimu apapun. Aku bisa memberimu uang, bisa memberimu kecantikan. Bisa memberimu apapun yang kau mau. Secara gratis. Orang-orang bersujud di depanku dan memberiku berbagai hal hanya agar aku bisa melakukan sesuatu yang mereka inginkan. Dan kau… kau tinggal berbisik dan aku akan segera memberikannya padamu,” Aku merebahkan kepalaku di bahunya.
Dia memandangku tanpa ekspresi. Kadang orang takut melihatku. Kadang tidak. Tapi dia tidak pernah takut.
“Kenapa setelah kasus Leon, kamu masih mengikutiku? Aku sudah capek dan aku tidak mau lagi berhubungan denganmu,” Dia mengibaskan rambut panjangnya dan berjalan keluar pintu.
Aku mengepalkan tanganku.
Sayang, Sayang, Sayang.
“Dulu kamu sayang aku!” teriakku ke arahnya. Dia tidak mendengar. Atau tidak mau mendengar.
***
Aku menatapnya dari ujung kelas. Dia sedang tertawa-tawa bersama teman-temannya. Mereka, seperti manusia pada umumnya, memakai sesuatu yang sama sebagai tanda mereka satu kelompok. Mereka memakai jaket warna pink muda, dengan wajah bersih yang berbeda dengan wajah siswa-siswa kebanyakan di sekolah itu. Baju mereka sedikit lebih ketat dan lebih pendek dari wajah siswa lain. Tas mereka sedikit lebih bermerk. Kulit mereka sedikit lebih putih. Mereka pikir mereka superior, dan mereka mungkin memang dianggap superior.
Aku sudah tinggal di sekolah ini selama ratusan tahun, bahkan sebelum tempat ini menjadi sesuatu yang disebut sekolah. Ketika tempat ini masih penuh pohon-pohon dan rumput liar, dan kelinci hutan. Aku telah melihat banyak gadis-gadis seperti mereka selama aku tinggal di sekolah ini. Gadis-gadis yang senang tersenyum congkak ke arah para laki-laki, dan menertawai remaja perempuan lain yang tidak seindah mereka.
Dan awalnya aku melihat dia sama seperti perempuan-perempuan lain.
Aku melewatinya setiap hari, mencibir dari pojokan kelas atau pohon tempatku biasa tinggal. Perempuan-perempuan sombong itu. Manusia. Kadang kugoda temannya sampai mereka berteriak ketakutan.
Sampai pada suatu hari, kusadari bahwa dia bisa melihatku.
“Jangan ganggu ya,” Dia mendatangiku di pojok sekolah, matanya yang tidak pernah gagal menyorotkan percaya dirinya berkilat.
Aku menyipitkan mata. “Aku suka kamu,” ucapku, begitu saja. Reflek. Perasaan seperti ini tidak pernah muncul sebelumnya. Tapi aku merasakan hal aneh itu padanya. Cantik. Elegan. Dan bisa melihatku.
Dia hanya menaikkan dagunya. “Kita tidak sebaiknya bersama,” ujarnya, lalu dia tanpa menoleh lagi berjalan menjauhiku. Mungkin seperti ketika dia menjauhi laki-laki lain yang menyatakan cinta padanya.
Dasar wanita cantik.
Tapi aku tidak menyerah.
Aku terus mengikutinya di belakangnya. Di pojok kelasnya ketika dia belajar. Di jok belakang mobilnya ketika dia pulang malam. Di tempat dia les. Di pojok kamarnya ketika dia tidur. Di kolong tempat tidurnya.
Aku tahu dia melihatku, dia kadang melirik nakal dan tersenyum puas melihatku, tapi sejauh ini, dia belum melakukan apapun. Dan aku, sungguh, sungguh-sungguh jatuh cinta padanya.
Sampai akhirnya datang laki-laki ini. Namanya Leon. Orangnya tinggi, dengan badan besar, terbentuk oleh (pastinya) hal-hal yang sering aku lihat manusia lakukan di dekat pohonku; lari-lari, melempar bola-bola, mengangkat sesuatu yang berat. Aku melihat dia juga membawa kendaraan yang panjang dan berkilau. Lebih berkilau dan lebih panjang dari kendaraan lain yang ada di tempat parkir dekat pohonku.
Aku melihat Leon ini terus mendekati gadisku. Dia terus mendatanginya seperti aku mendatangi gadisku. Dari yang lembut, sampai yang paling kasar. Dia menarik tangan gadisku dan menempelkan tubuhnya pada gadisku. Gadisku marah. Dia tidak suka. Tapi Leon tidak peduli. Dia sama tergila-gilanya pada gadisku seperti aku.
Aku biarkan saja, karena aku tidak punya kepentingan apapun untuk melakukan apapun padanya. Jika gadisku milikku, dia akan datang sendirinya padaku.
Hingga hari itu tiba.
Gadisku tiba-tiba mendatangiku di pojokan kelas. Dia pura-pura membawa handphonenya kesana. Pura-pura menelepon. Tapi aku melihat matanya melirik padaku.
“Kalau kamu memang suka aku, kamu harus melakukan sesuatu untukku,” katanya dengan nada suaranya yang dingin tapi (menurutku) seksi.
“Apa?” Aku tersenyum lebar.
“Lakukan sesuatu pada Leon. Buat dia menjauhiku,” ujarnya.
Kali ini dia menoleh dan menghadap langsung ke arah wajahku. Kali ini aku tahu dia serius. Kali ini aku tahu ini tantangan. Dan kali ini aku tahu aku bisa melakukan sesuatu untuk membuatnya jatuh cinta padaku.
Oh Sayang, Sayang, Sayang.
Akhirnya aku, atas permintaan gadis itu, melakukan sesuatu pada Leon.
Aku mungkin tidak perlu menceritakan apa padamu. Mungkin kau akan berteriak. Yang pasti besoknya, Leon tidak ke sekolah. Dia masuk rumah sakit. Kepalanya diperban, kakinya patah.
Dan aku langsung mendatangi gadisku lagi di sebelah meja belajarnya di rumahnya. Dia tadinya pura-pura tidak tahu aku ada. Tapi lama-lama akhirnya aku melihat kilasan senyum di bibirnya.
“Terima kasih,” katanya akhirnya, sedikit menahan rasa senangnya tampaknya.
Dan aku berharap dia menciumku untuk berterima kasih.
Dia melakukannya.
Beberapa lama setelah itu, aku selalu di sampingnya. Menemaninya di ujung ruangan saat dia belajar dan tidur. Menatapinya melakukan aktivitas. Dia adalah cinta pertamaku. Dia tahu aku peduli padanya dan aku akan datang kapanpun dia membutuhkanku.
Sekian lama, sampai akhirnya aku menemukan potongan jiwa.
Saat-saat seperti itu, dia akan tersenyum ke arahku sebelum dia tidur. Dia akan tersenyum padaku saat dia belajar. Sayang, sayang, sayang.
“Kalau kamu mati nanti, maukah kamu bersamaku?” tanyaku suatu malam.
Dia tersenyum dan mengangguk.
Sayang, Sayang, Sayang, Oh…
***
Sampai akhirnya masa-masa itu datang. Masa dimana dia tidak peduli padaku lagi dan mulai bertingkah seperti itu. “Cari cewek lain,” katanya. Dan dia akan pergi menggamit seorang laki-laki yang biasanya bingung dia sedang bicara dengan siapa.
Aku hanya bisa meringis di pojok ruangan. Aku tidak percaya dia akan melakukan ini padaku. Aku berusaha mengajaknya bicara berkali-kali, tapi dia tidak pernah mendengarkanku lagi. Tidak ada senyumnya. Tidak ada cinta pertama.
Tidak ada.
***
Malam itu, kudatangi lagi dia. Dadanya bergerak naik turun dengan teratur. Matanya terpejam. Dan malam ini, oh, dia memakai baju yang sedikit menggelitik kelenjar ludahku. Kakinya bergerak-gerak sekali-kali. Aku berpikir tentang apa yang dia impikan di dalam sana.
Bagaimanapun dia cinta pertamaku. Dan aku pikir dia akan jadi milikku selamanya.
Perlahan aku mendekatinya.
Kujulurkan tanganku ke arahnya. Aku selalu tidak dapat menahan diri untuk menyentuhnya. “Sayang, Sayang…” bisikku, mendekati telinganya. “Sayang, Sayang, oh… Sayang… Tidak… jangan tinggalkan aku…” Aku berbisik lagi, merasakan rasa sakit yang meledak-ledak di dadaku.
Kulitnya terasa hangat. Aku mengelus-elus lembut lengannya.
Tapi hentakan di pintu membuatku agak kaget. Seseorang masuk ke dalam kamar ini.
“Laila aku mau minta tolong—AAAAAAAAARGH! YA TUHAN NGAPAIN ITU POCONG DI SEBELAHMU?”
***
wow. dari lagunya Bieber bisa jadi begini. Way cool.
BalasHapusOkay, pocong is a turn off.
BalasHapusHahaha, gw ngebayangin hantunya agak kerenan dikit, ga berbentuk pocong gitu :))
Dan endingnya itu, malah bikin gw ngakak.
cowok nya pocong???!! keren!
BalasHapusngga nyangka, cowoknya 'tak terlihat' begitu.. tapi cerita ini bener-bener gokil abis!! hahaha
BalasHapusdan yang paling keren itu inspirasinya dari lagunya Justin Bieber pula! damn cool!!
super kocak!! *kirain bakal serem*
BalasHapustapi komen terakhir bikin pocong jadi kayak sejenis tukus, jijik tp seperti udah wajar ada di situ.
applause!
sekarang gw ga takut lagi sama pocong, karena setiap ngebayangin pocong gw ngeliat muka bieber
BalasHapusini hasil lagu baby baby?? >__>;
BalasHapusmantaap, hikikiki ... LOVE THIS!!
BalasHapuswah keren uy...dapet darimana idenya? :P
BalasHapusTuh kan, Farida kalo nulis ending selalu mengagetkan =)) =)) Baguuus!
BalasHapusTerima kasih teman-teman atas apresiasinya! Ada kritik? Ceritanya kecepetan atau gimana?
BalasHapusMbak Jia, saya memang bikinnya untuk komedi :p Waktu itu sudah cukup gila mau bikin lagu dari Bieber, dan pikir-pikir bikin ceritanya komedi gila juga aja. Tapi pocongnya turn off ya? Maap :)) Just for kick
Anonim: idenya darimana? You don't wanna know... #sokserem
Terima kasih atas komentarnya teman-teman, kalau ada kritik silakan aja...