Oleh: Azka Shabrina
“Ini negara sebetulnya punya pemimpin nggak sih?"
Ah, capek. Lagi-lagi muncul topik yang tidak akan ada ujungnya bila
dibahas. Aku menyandarkan punggung di dinding, bungkam total. Biar
yang lain saja yang menimpali.
Bukannya tidak peduli atau tidak cinta negara, tapi menurutku obrolan
seperti ini percuma. Apa sih yang bisa kita dapatkan dengan
ngalor-ngidul masalah negara seperti ini? Pemerintah tetap dengan
buta-tulinya, toh?
Aku cinta Indonesia. Yang tidak aku cintai adalah pimpinan yang tidak
bisa memimpin. Juga orang-orang yang bergaya pemimpin, tapi tidak
disertai mental seorang pimpinan.
Kasihan sekali kita ini. Berdemo? Apa gunanya berteriak di depan orang
yang tuli? Unjuk rasa? Apa yang mau ditunjukkan pada orang buta? Dan
lebih parah lagi, untuk apa orang-orang buta-tuli itu duduk di
pemerintahan?
Ironis.
Rasanya seperti mimpi buruk siang-malam.
“Ah, gue jadi pengen pindah negara,” ujar temanku dengan wajah kusut.
Rupanya mereka sudah stuck.
Aku tersenyum miris. Memang sebaiknya tidak usah dibahas. Hanya bikin
kesal. Biarkan saja yang buta dan tuli dengan kebutaan dan
ketuliannya. Kita jangan ikut-ikutan.
Biarkan, biarkan saja dulu mereka mematikan indera. Roda kehidupan itu
tidak selalu berada diatas, bukan? Itu yang mereka lupakan, kukira.
(dari lirik lagu Oasis – Little By Little. Entah kenapa yang kepikiran
malah seperti ini :p)
Blog untuk memajang hasil karya partisipan #WritingSession yang diadakan setiap jam 9 malam di @writingsession. Karena tidak ada yang bisa menghentikan kita untuk berkarya, bahkan waktu dan tempat.
Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!
curhat! haha
BalasHapusmungkin kita bukan harus pindah negara, tp harus bergerak membantu pemerintah.. haha kyknya butuh bantuan banget..
Hahahaha baru sadar kesannya kayak keluhan, bukan cerita. Hehehe
BalasHapusSaya suka sekali sama bagian - Berdemo? Apa gunanya berteriak di depan orang yang tuli? Unjuk rasa? Apa yang mau ditunjukkan pada orang buta? - karena terasa simpel tapi tajam.
BalasHapusSalam kenal ya? :)
Terima kasih. Salam kenal juga :)
BalasHapusJudulnya menarik perhatian saya. Menurut saya lebih baik judulnya "TunaGanda" saja. Karena menurut kamus yang saya baca, tunaganda memiliki arti penderita cacat yang memiliki lebih dari satu kecacatan (yaitu cacat mental dan fisik). Dari situ, penulis bisa mengulas mau diarahkan kemana alur pemikiran tulisan ini. Saya merasa masih banyak kelemahan pada tulisan ini. Tapi saya tidak menyangkal bahwa sebenarnya penulis memiliki banyak sekali argumen bagus yang bisa dituliskan apabila ada lebih banyak waktu. Penggunaan gaya bahasa yang kreatifpun saya temukan. Saya menduga tulisan ini ditulis dalam waktu yang singkat. Sehingga tidak cukup detil. Anyway, keep writing. Seorang aktivis muda harus pandai menuangkan pemikirannya dalam tulisan juga.
BalasHapusWow, terimakasih banget atas sarannya. Seneng banget dapet saran seperti ini. Terimakasih!
BalasHapusSama-sama mari saling mengapresiasi. Tulisan saya butuh dorongan karena mati suri :) Just Another Poem atau blog saya www.ganggangbiru.rumahtulis.com
BalasHapus