Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Senin, 04 April 2011

Aku Ini Cuek atau Pelupa?

Oleh: @larissayuanita
Larissayuanita.blogspot.com


“ Janeeeeee..........! Taruh handuk basah ini di tempatnya! Masa tiap hari mama harus mengingatkan kamu?”
“Entar ma, lagi main komputer nih.”
“Janeeeeeeeeeeeee! Dirumah harus pakai sendal! Biar bentuk kaki mu bagus.”
“Nanti ma, sendalnya dibawah.”
“Janeeeeeeeeeee! Jangan taruh dompet sembarangan, nanti duitmu hilang!”
“Aduh, rumah ini aman kok ma..”
“Janeee......  Jangan lupa beresin buku, biar besok pagi gk buru-buru.”
***
Begitulah percakapan sehari-hari dirumah. Aku bosan mendengar ocehan ibu yang sama tiap hari. Tapi mau bagaimana lagi? Aku adalah anak yang pelupa. Aku tak tau, sebenarnya aku ini pelupa atau memang anak yang cuek? Sampai akhirnya aku kapok untuk menunda-nunda mengerjakan sesuatu.
***
“Jas, kamu tolong pergi ke apotik, belikan obat yang ada di resep ini. Ingat ya, pulang nya jangan lebih dari jam 6. Soalnya obat ini mau dipakai ayah.”
“Iya bu.”
“Ini uangnya. Jangan dibuat jajan ya. Harga obatnya kalau tidak salah Rp. 35.000. Ini ibu kasih 50ribu soalnya ibu tidak ada uang kecil.”
“Iya Bu. Aku berangkat dulu ya.”
Aku pun segera memakai sendal jepit dan pergi ke apotik. Tapi, baru sampai tengah jalan, Josh meneleponku.
“Jane! Kamu cepat datang kerumahku! Kamu lupa kalau hari ini kita ada kerja kelompok? Besok itu kelompok kita sudah harus tampil dramanya. Kita butuh orang untuk membuat propertinya! Kan gara-gara kamu lupa untuk membuat propertinya, kita jadi harus kerja mepet-mepet begini! Cepat kesini,kalau tidak aku akan melaporkan pada Bu Rosi kalau kamu tidak kerja, biar dia beri kamu nilai 0!.”
“iya iya, aku akan kerumahmu sekarang!”
Karena panik, aku lupa untuk pergi ke apotik. Aku langsung pergi ke rumah Josh untuk menyelesaikan tugas sejarah yang harus ditampilkan besok. Huh, ini semua memang karena kelalaian aku. Perjalanan dari sini sampai kerumah Josh kurang lebih 10 menit, karena aku berjalan kaki. Aku melirik jam di handphone ku dan waktu telah menunjukkan pukul 5.30 sore. Aku langsung berlari secepat mungkin tanpa memperdulikan apa yang terjadi.
Tiba-tiba saja aku berada di rumah sakit. Badanku sakit semua. Saat aku mulai sadar, kepala ku pusing sekali. Aku melihat di sisiku ada ibu dan adikku tapi aku tidak melihat sosok seorang ayah. Aku langsung bertanya:
“Ibu, aku sedang dimana?”
“Kamu kecelakaan nak, kamu sekarang ada dirumah sakit Cipto dekat rumah.”
“Memangnya apa yang terjadi?Ayah dimana?”
“Kamu tadi tak sengaja tertabrak mobil,untuk saja kamu hanya luka ringan. Ayah kamu masuk rumah sakit juga,karena kamu tidak membelikan obat asma itu untukknya. Tapi untungnya dia cepat dibawa kerumah sakit.”
“Maafkan aku, Bu. Ini semua gara-gara aku! Aku benar-benar menyesal!”
“Makanya, lain kali jangan jadi anak cuek yang pelupa lagi! Merugikan diri sendiri dan orang lain! Mengerti?”
“ia bu, aku benar-benar menyesal. Ternyata yang ibu katakan dari dulu benar. Lebih baik aku tidak menunda-nunda mengerjakan sesuatu. Dimana ayah? Aku ingin menjenguknya.”

***

Sekarang aku telah mengerti kenapa kita tidak boleh menunda-nunda sesuatu karena bisa berakibat fatal. Mulai saat itu, aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menjadi anak yang cuek. Kalau saat itu ayahku tak tertolong, mungkin aku tak akan memaakan diriku sendiri. Untungnya Tuhan masih baik, dia masih memberikan aku kesempatan yang kedua. Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu, janganlah menunda-nunda hal yang dapat kau kerjakan sekarang, karena itu bisa menjadi kebiasaan dan berakibat fatal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!