Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Jumat, 01 April 2011

Konfesi Selembar Kertas


Oleh @grydrn


Wanita itu memegang kedua pundakku, wajahnya berpaling kepadaku. Sudut kanan kedua matanya mencerlangkan sinar kuning kelabu. Kalau aku boleh jujur, tatapannya menyeramkan. Kepalanya berpaling dari kepalaku, terus ke bawah pelan-pelan. Semakin ia melepas pundakku, semakin melebar pula cerlang yang tampak. Seberkas air kemudian menyelimuti kedua matanya. Aku tidak tahu apa yang ada di benaknya, tetapi kali ini aku tidak boleh gagal.

“Jadi selama ini...”, tak lama kemudian ia mulai membuka mulutnya. Ia menghempaskan bokongnya di ranjang tuanya.
Aku tak membalasnya, hanya termenung.
“Kenapa kau tidak katakan dari dulu! Keadaan tidak akan seperti ini kan sekarang?”, lanjut wanita itu. Setetes peluh mulai mengalir keluar dari rimbunan rambut abunya, perlahan menuruni wajahnya, lehernya, dan sampai pada daster hijaunya. Peluh dan kain mulai bersenggama, saling menyatukan diri.
Mata kecilku menatap jauh ke luar jendela kayu reot di sisi kiri wanita itu. Kulihat awan kelabu bergerak maju, menghampiri kami seolah ingin melihat apa yang sedang terjadi.
Sejenak, terjadi keheningan di antara kami. Ruangan ini hanya terdiri dari aku dan Bu Carl.
Apa? Kau tak tahu Bu Carl?

Peristiwa ini terjadi beberapa tahun yang lalu. Temanku, Erl si kertas koran tua tahun 1993, menceritakannya padaku. Ia melihatnya melalui jendela ruang tamu.
“Kau yakin tak mau memilih sekolah lokal?”, ucap Bu Carl, “Kita sudah kehilangan ayah, Ibu tidak mau kehilangan kamu, nak”.
“Tidak, Ma. Aku yakin aku bisa sukses. I’ll become a great army!”, jawab perempuan di depannya.
“Tentara merupakan pekerjaan yang berat. Josh, kalau ada apa-apa, kau bisa menelepon Ibu.”, ucap Bu Carl seraya merangkul Josh.
“Aku telepon Ibu tiap saat.”, Josh balas merangkul. Itulah rangkulan terakhir Josh dan Ibu Carl.
“Oh ya, boleh Josh janji satu hal?”
Ada apa, Nak?”
“Jangan menjual rumah ini sampai aku kembali, baik Bu?”
“Memangnya kenapa?”
“Aku beritahu nanti kalau aku sudah pulang.”
Josh melambaikan tangannya ke Ibu Carl, masuk ke dalam taksi biru yang menunggunya, untuk mengantarnya ke bandar udara. Ibu Carl hanya bisa menitikkan beratus air mata.
“Aku telepon Ibu tiap saat” ternyata hanya bualan belaka, tidak pernah terjadi.

Setidaknya itulah yang terjadi beberapa lama sebelum aku sampai di sini. Ya, aku adalah sebuah kertas kuning yang baru saja mendarat di Jakarta. Di Russia, Josh menuliskan semua “uneg-uneg”nya di tubuhku. Aku rela menderita, ditulis dengan begitu banyak tinta, label, tip-ex, dan semua benda menjijikkan lainnya. Aku rela untuk dibanting ke dalam kotak pos besar, membiarkan kepalaku dibentur besi kotak pengantar, diselip ke dalam karung sempit, dan akhirnya diremas-remas oleh Ibu Carl. Semuanya ini hanya untuk memberitahukan Ibu Carl tentang keadaan Josh di Russia, bahwa Ia baik-baik saja. Sayangnya, plang “Rumah Dijual” yang terpasang di depan rumah Ibu Carl sudah berganti “Rumah Terjual”. Josh kembali ke Jakarta hari ini, dan ia telah menjadi seorang kolonel yang kaya raya. Sayangnya, tuntutan ekonomi mengharuskan Ibu Carl untuk menjual segala miliknya, bahkan rumah-kayu-2-lantai tuanya.

Rintik hujan mengguyur daratan dengan derasnya, seolah-olah merefleksikan batin Ibu Carl saat itu. Tidak, Ibu Carl tidak selemah itu. Ibu Carl segera keluar dari ruang tidurnya. Ia mengambil syal merah mudanya, dan mengenakan jaket birunya. Setidaknya hanya itulah yang ia punya, dan layak untuk dipakai. Ibu Carl akan segera membatalkan penjualannya pada kliennya. Berharaplah tepat waktunya, selembar kertas kuning di sini mendoakanmu. Keberuntungan tidak mengenal kondisi dan situasi apapun.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!