Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Jumat, 06 Agustus 2010

"Tentang Han Geng"

    Oleh: Farida Susanty (insignificantlyimportant.tumblr.com)
    Berdasarkan artikel http://en.wikipedia.org/wiki/Han_Geng
   
    Aku tidak bisa melihat sekitar. Buram. Aneh.
    Orang di depanku memberiku benda itu.
    Aku pikir aku tidak akan kemana-mana lagi setelah aku bersama mereka. Aku sempat takut. Tapi harusnya aku mendengarkan kepalaku sejak dulu.
    "Yang kamu butuhkan hanya mencoba."
    Aku mengambil benda itu dengan tangan gemetar penuh keringat.
    Sayup-sayup terdengar suara di kejauhan. "Han Geng..."

***
    Aku selalu ingat pertamakali aku ketakutan.
    "Kamu tidak pernah takut?" tanya temanku sore itu, ketika kami duduk di depan kios mi di kota Beijing. Matanya berkilat aneh. Kami baru saja makan dan perutku masih terasa berat. Tidak banyak makanan yang bisa aku pilih di Beijing sini. Aku harus berhemat. Sejak aku pindah kesini saat aku berumur 13 tahun, memasuki universitas Central University for Nationalities untuk memperbaiki kemampuan menariku, aku telah melepaskan diri dari orangtua.
    Tapi sejak itu, aku belum melakukan apa-apa. Masih menginap di rumah temanku ini selama beberapa minggu, belum mempelajari banyak hal, belum mulai masuk kuliah, atau mengikuti audisi.
    "Takut apa?" Aku meminum air mineral di tanganku.
    "Kamu pindah ke sini hanya untuk menari," katanya. Dia menggeleng-geleng. "Aku masih bingung kenapa kamu bisa seberani itu."
    "Aku masih takut," ujarku. "Entahlah. Aku terus berlatih. Tapi... Entahlah, aku juga sempat bertanya-tanya, apa yang aku kejar ini akan berhasil."
    Aku menguasai 56 tarian tradisional dari berbagai etnis Cina. Tapi aku tidak yakin ini akan membawaku kemana-mana. Tapi ketika aku masih di Mudanjiang, entah kenapa aku begitu yakin dengan bakatku ini. Aku selalu menikmati menari, dan entah apa yang membuatku percaya bahwa hidupku adalah untuk menari. Dan meminta izin pada orangtua untuk pindah ke Beijing untuk masuk universitas untuk memperbaiki bakat menariku. Aku pasti sudah gila.
    Tapi entah kenapa aku percaya. Aku sedikit percaya.
    Tepukan tangan temanku di bahuku membuyarkan pikiranku. Dia menunjuk ke sebuah pamflet yang tertempel di jalan. "H.O.T. CHINA Audition Casting". Aku terbelalak. Bukan hanya karena kesempatan audisi akhirnya datang, tapi juga karena yang mengadakan adalah S.M. Entertainment. Agensi besar dari Korea.
    "Ayo kita ikut!" Temanku menyenggol tanganku. Aku menggeleng-geleng. Aku ragu. Aku takut apa yang kupercayai salah. Bahwa aku tidak berbakat menari dan akan gagal. Aku tidak... aku tidak mau mencoba hanya untuk membuktikan bahwa itu salah.
    "Lupakan saja," Aku berjalan pergi menjauhi pamflet dan temanku yang masih berdiri di sana. Aku akan ikut audisi yang lebih kecil. Sehingga aku bisa lolos.
    "Hey, ayo, ikut saja, aku akan menemanimu!" Temanku menepuk bahuku lagi dari belakang.
    "BERISIK KATAKU!" teriakku reflek, tidak sadar bahwa sekarang aku sedang di tengah kota, di tengah hiruk pikuk kota Beijing. Orang-orang menoleh padaku. Aku bisa merasakan pipiku memerah. Lihat saja, hanya dilihat orang saja, aku masih malu. Bagaimana aku bisa jadi bintang?
    Temanku menatapku nyaris tanpa berkedip. "Kupikir kau bukan orang seperti itu. Jangan mempermalukan dirimu sendiri di depan dirimu sendiri."
    Aku menatap ke seluruh Beijing. Di mana orang menempatkan mimpi di tengah hiruk pikuk ini? Di tengah laju ekonomi, di tengah para pekerja. Aku hanya seorang minoritas dari Mudanjiang. Jangan mempermalukan diri sendiri di depan diriku sendiri.
    Aku akhirnya mengangguk.
    Itu adalah saat dimana aku begitu takut, tapi aku memutuskan untuk maju.
***
    3000 orang banding 1. Katanya itu rasionya.
    Di sinilah aku sekarang, bersaing dengan 3000 orang untuk melihat apakah aku bukan cuma pemuda pemimpi yang berpikir dia bukan cuma satu wajah di antara 1 milyar orang Cina lain. Aku melihat ke sekitarku, orang-orang yang tampak memakai baju terbaik mereka yang pas tubuh dan tampak meregangkan otot mereka di dinding ruang tunggu.
    Mereka menginginkannya seperti aku.
    Siapa aku?
    Malam itu, selesai audisi, aku menolak untuk mendengar apa-apa lagi tentang S.M Entertainment. Atau audisi H.O.T. Aku juga tidak mau menonton TV. Aku tidak mau meremas kursi dengan kesal melihat wajah-wajah terkenal itu di TV, menari sesuka hati mereka dan dielu-elukan banyak orang.
    Aku hanya akan belajar menari dengan baik di universitas. Itu saja.
***
    Aku ingat terakhir kali aku takut.
    Setelah audisi itu, aku memutuskan untuk bekerja mencari uang untuk masuk kuliah. Beberapa orang menawariku untuk bermain film pendek berbujet rendah. Aku setuju. Aku tidak terlalu peduli lagi tentang dunia tari. Aku hanya ingin mendapat uang untuk meneruskan kuliah.
    6 bulan berlalu dan aku belum mendapat berita apa-apa. Aku tidak begitu ingat hari-hari itu. Yang kuingat, perasaanku sedikit sakit selama waktu-waktu itu. Aku merasa agak hampa. Prospek untuk mendalami dunia tari di tempat kuliah sangat membuatku tertarik, tapi diam-diam aku tetap menginginkan tempat di S.M. Entertainment.
    Dan menginginkan sesuatu yang hampir pasti tidak bisa kau dapatkan, rasanya tidak begitu enak. Mimpi seperti beban berat di punggungmu.
    Dan aku ingat hari itu. Agustus 2002.
    Sebuah telepon masuk ke rumah temanku. Aku baru hampir tertidur di kursi, tapi aku segera bangun untuk mengangkat.
    "Ya?"
    "Halo, Han Geng? Kami dari S.M. Entertainment."
***
    Aku ingat hari ketika aku takut. Tapi sekarang aku di sini.
    Kuambil benda itu, obor itu. Obor yang katanya desainnya didasarkan pada desain tradisional Cina yang disebut  "Propitious Clouds" (祥云). Obor yang didesain untuk tetap menyala dalam angin berkecepatan 65 km/jam, temperatur serendah -40 derajat celsius, dan hujan sampai 50 mm (2 in) per jam.
    Seperti mimpiku. Yang tidak pernah padam.   
    Obor yang dibawa dari Yunani sampai Beijing. Obor Olimpiade Beijing. Dan aku terpilih sebagai pembawa obor, bersama 21.880 orang lainnya.
    Katanya karena kontribusiku terhadap pertukaran budaya antara Cina dan Korea Selatan. Mungkin karena tari-tari tradisionalku yang selalu kuselipkan di tarian-tarian yang kulakukan bersama grupku, Super Junior.
    Ternyata bakat itu memang berarti sesuatu.
    Aku berlari mengambil obor itu. Obor itu terasa dingin di tanganku. Tertiup angin sore. Tapi aku yakin dia tidak akan padam.
    Aku ingat hari dimana aku merasa takut.
    Tapi ternyata mimpiku, seperti obor ini, tidak pernah padam.
***


Author note: Maaf penggemar SuJu, I don't know much about this guy, this writing was just based on his Wikipedia article I got. And I have no idea what to write. I guess at a glance, I really admire his determination to reach for his dream.
Judulnya nampak jelas tanpa inspirasi sekali ya?

7 komentar:

  1. wow. untuk orang yg cuma tau hangeng dari wiki barusan, ini lebih dari cukup!

    yah, kurang lebih dia seperti itu, punya mimpi besar dan selalu berusaha mewujudkannya. meski setelahnya dia diperlakukan ga baik :( dia masih berani juga ambil keputusan keluar SM

    BalasHapus
  2. Woo, terima kasih Nara :) Datang dari fans SuJu, aku merasa tenang nggak menghancurkan bayangan kamu tentang Han Geng.

    BalasHapus
  3. enak deh ngebacanya, mengalir bahasanya :)

    BalasHapus
  4. seperti biasa, farida, imajinasi yang tinggi dan penyisipan detail informasi yang hebat!

    jempol!

    BalasHapus
  5. tulisannya oke.
    judulnya harusnya diganti tuch sebelum di-posting (personally aku agak ill feel baca judulnya hahaha no hard feelings :P )

    BalasHapus
  6. Tulisan Farida rasanya terstruktur dengan baik dan enak dibaca. Dan ya, untuk seseorang yang tidak familiar dengan SuJu, tulisan ini sangat patut diacungi jempol! Farida mampu menyulap artikel Wiki menjadi sebuah cerita yang hidup. Seperti fanfiction, tapi based on true story. Aku juga suka analogi obor dan mimpi. Simple but could be inspiring, in a way.

    BalasHapus
  7. yaap.. meskipun kak farida ga tau ttg hangeng tp ini udah lebih dr cukup.. hehe..

    BalasHapus

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!