Oleh: Stephie Anindita
@stephieanindita
Oke. Sekarang setelah aku akhirnya berhasil membungkam mulut kalian semua, aku akan bicara. Sedari kemarin aku ingin bicara pada kalian secara baik-baik. Berdialog. Pembicaraan dua arah. Tapi selalu gagal. Aku baru bicara satu kata, kalian sudah memuntahkan sepuluh kata. Aku baru memuka mulut, kalian sudah membentak menyuruhku diam. Kini giliran kalian yang diam, oke?
Jangan menatapku seperti itu. Jangan menatapku seolah-olah aku yang gila. Kalau saja kalian mau belajar untuk diam dan mendengarkan, aku tidak perlu melakukan ini. Tidak mudah tahu, sembunyi-sembunyi membeli obat tidur, menahan rasa mualku ketika kalian mencemooh ajakanku untuk minum teh dan bicara ‘baik-baik’ di rumahku, menunggu selama dua minggu sebelum kalian akhirnya ‘berbaik hati’ mau memenuhi undanganku, lalu menyeret kalian yang sudah tak sadarkan diri satu-persatu ke gudang belakang, mengikat dan membekap mulut kalian, lalu menunggu hingga pengaruh obat tidur itu mulai mereda ...
Sekarang giliran kalian yang diam.
Aku akan menjelaskan semuanya. Aku yang akan bicara.
Pertama-tama, aku ingin berterimakasih pada kalian. Aku tidak bisa memungkiri kalau transformasi kehidupan yang aku alami semenjak bersama kalian, sangatlah membahagiakan dan membanggakan. Semua orang bisa melihat itu semua kok. Alexis si itik buruk rupa yang kini menjadi angsa putih, sejuta terimakasih pada geng Sparks – geng cewek paling populer dan ditakuti se-antreo sekolah.
Kita memang sempurna. Siapa sih yang tidak bisa melihat itu semua? Segala yang ada pada diri kita, semuanya sempurna. Kita cantik, modis, kuat, punya pacar-pacar yang juga sempurna ... dan yang penting adalah: IMAGE. Semua orang memuja kita, memuja kesempurnaan yang kita miliki. Semua yang tidak pernah kubayangkan akan kumiliki, kini berada erat dalam genggaman.
Lalu, apakah yang membuatku ‘berkhianat’ – mengutip istilah dari kalian?
Karena aku sudah tahu kebenarannya. Aku bisa melihat kenyataan yang ada. Semua itu tidak pernah ada dan tidak akan pernah ada. Kita ini adalah kelompok orang yang dibenci oleh seisi sekolah. Sapaan, senyum dan tatapan penuh pemujaan itu tidak pernah ada. Mereka semua membenci kita, karena apa yang kita lakukan untuk ‘mempertahankan’ image kita itu. Antara lain: mempermalukan anak yang lemah di depan umum, lalu menyebarkan rumor-rumor jahat tentang siapapun yang ingin kita hancurkan ‘just for fun’, mendekati cowok-cowok keren di sekolah dan mencap kalau cowok-cowok itu adalah ‘milik kita’ dimana tidak seorangpun yang boleh mendekati mereka ...
Dan inilah yang aku lihat sebagai ‘buah’ dari semua ‘usaha’ kita itu:
Anak yang diopname di rumah sakit karena mencoba bunuh diri. Dia depresi berat. Usianya padahal belum genap tiga belas tahun. Hanya gara-gara kita ‘iseng’ menampari, merobek seragamnya dan mempermalukannya di depan umum.
Ingat rumor tentang gadis berwajah sok baik tapi berkelakuan seperti pelacur itu? Gadis itu dihajar habis-habisan oleh Maminya yang termakan gosip itu. Aku tak sengaja mendengar ia menangis meraung-raung meratapi nasibnya di kamar mandi wanita.
Beberapa orang brengsek mencap kita cewek-cewek ‘bispak’. Kalian tahu, aku pernah tiba-tiba saja mendapat perlakuan tidak senonoh dari salah seorang orang brengsek itu. Ia menarik rokku ketika kami duduk bersebelahan di kantin. Ketik aku marah, ia hanya tertawa dan berkata ‘semua orang juga tahu cewek macam apa Sparks itu ... sudahlah, jangan munafik begitu! Kalau elo memang mau dibayar, gue bayar. Berapa sih?’
Dan semua itu menghantuiku! Aku nyaris dibuat gila dengan rasa bersalah yang menderaku tanpa ampun. Aku nyaris mati oleh rasa bersalah. Dan ketakutan akan datangnya hari eksekusiku. Karma pasti ada. Cepat atau lambat, semua itu pasti akan berbalik pada kita.
Coba kalian lihat luka di sekujur lenganku ini. Inilah yang selama ini aku lakukan setiap kali rasa bersalah itu datang. Aku menghukum diriku sendiri dengan menyakiti diri. Goresan silet, sundutan rokok, cakaran, memar akibat memukuli dinding ...
Aku tidak tahan dengan semua ini. Aku tidak mau gila!
Aku takut menghadapi suatu hari, dimana tiba-tiba saja tanah di hadapanku retak, terbuka dan penguasa neraka menarikku turun ke neraka yang dipenuhi api ... mungkin jika semuanya berhenti sekarang, maka hari penghukuman yang harus aku hadapi tidak akan terlalu menyakitkan. Terserah jika kalian ingin terus menjadi seperti itu, tapi aku tidak mau. Aku masih mau hidup.
Tapi kenapa kalian tidak mau mendengar? Kalian terus berteriak kalau aku ini adalah kacang yang lupa akan kulitnya. Aku anak yang tidak tahu berterimakasih... kalau saja kalian tidak berbaik hati ‘menyelamatkan’-ku, maka aku akan tetap menjadi anak yang dibenci oleh seantreo sekolah.
LANTAS APA BEDANYA DENGAN SOSOK ‘AKU’ YANG KALIAN CIPTAKAN SEKARANG INI HAH?!!
Kalian berkata kalian membenciku. Aku ini sombong, aku telah menyakiti hati kalian, aku tidak pantas dijadikan teman lagi ... tapi kalian tidak membiarkanku pergi. Kalian tetap mengejar-ngejarku kemanapun aku pergi, menerorku dengan berbagai makian, ancaman dan ultimatum.
AAARGHH!! AKU BISA GILA!! APA SIH MAU KALIAN, HAH?!!
BICARA! SEKARANG! APA MAU KALIAN?! JANGAN HANYA DIAM!! JAWAB!!
Maaf. Maaf. Maaf. Aku tidak bermaksud menyakiti kalian ... sungguh ... tadi tanganku seolah punya nyawanya sendiri. Oh, sial, sial, sial ... kalian tidak ada yang terluka parah kan? Luka di wajah kalian itu tidak terlalu parah, kuharap ...
Maaf... aku tidak bisa bicara lebih lanjut sekarang. Aku perlu waktu untuk menenangkan diri. Kalian juga perlu waktu untuk menenangkan diri. Diam dulu di sini, oke? Tenang-tenang saja ... tidak ada yang pernah masuk ke gudang belakang rumahku ini. Kedua orangtuaku juga sedang pergi rapat ke luar negeri, jadi kita punya waktu sampai ... ya, tiga hari. Selama tiga hari ini kita akan sama-sama mengevaluasi diri, oke? Sekarang, aku permisi dulu.
Aku duduk menyandar di pintu gudang yang lembab dan lapuk, berusaha tidak memperdulikan suara jeritan-jeritan tertahan dari baliknya. Aku perlu menenangkan diri ... dinginnya udara malam ini mudah-mudahan saja bisa menyejukkan pikiranku. Tubuhku terasa sangat berat ... mataku juga terasa perih ... mungkin tidak ada salahnya aku tidur sebentar.
Antara tidur dan tidak tidur, samar-samar aku mendengar sirine mobil polisi dari kejauhan ...
hebat, hebat.
BalasHapusuntuk tema thriller ini kayaknya cuma kamu yang bikin dari sudut pandang penculik, bukan yang diculik.
dan ceritanya membawa pesan moral, tanpa terkesan menggurui.
tp untuk sebuah cerita thriller, sepertinya kurang dark dan mencekam. emosi pembaca belum terlalu dimainkan, gak bikin deg2an.
i like it, over all!
thank you ^^ hehehe ... semoga di writing session berikutnya aku bisa lebih baik lagi ;) arigatou!
BalasHapus