Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Kamis, 05 Agustus 2010

"Hujan Itu Miliknya, Selamanya."

Oleh: Azka Shabrina
(azka.shabrina@gmail.com)

Indra.
Kalian pernah mendengar nama itu?
Mungkin banyak bayi yang diberi nama Indra setelah dilahirkan. Mungkin saja kamu juga bernama Indra.
Tapi apakah kalian tahu, Indra sesungguhnya adalah nama dewa?
Ya, Dewa Indra. Dewa cuaca. Yang berkuasa atas hadirnya awan mendung dan kemudian turunnya rintik air. Yang kemudian membunyikan geledek sekaligus juga matahari. Dewa perang, yang menjaga keamanan dunia dari ancaman. Juga Raja Kahyangan.
Apakah pernah ada yang mendengar kisah cinta Indra yang paling tragis?
Di negeriku ini, ada sebuah pulau yang begitu kecilnya. Dalam pulau itu hanya terdapat sebuah kota. Jauh di ujung negeri, namun indah dan makmur. Lautnya begitu kaya dan jernih. Sayangnya, hujan begitu jarang turun di pulau tersebut.
Di pulau kering itu tinggal seorang perempuan muda bernama Rara Ayu Ayu. Seorang anak nelayan biasa. Bukan kembang desa, namun keceriaannya selalu menyenangkan hati penduduk kota. Setiap pagi orang-orang bisa melihatnya bermain-main dengan ombak sembari membantu mengangkut hasil melaut semalam.
Semua orang menyayanginya. Dan karena itu, semua orang mendoakannya. Doa-doa yang dengan ikhlas diucapkan setiap malam, yang bertubi-tubi sampai di telinga Indra. Membuat sang dewa penasaran dan memutuskan untuk menemui perempuan ini.
Suatu malam, setelah membantu para nelayan berangkat melaut, Rara Ayu terduduk di pinggir pantai. Menatap perahu bapaknya yang kian menjauh dan semakin lama semakin tidak terlihat. Saat itulah Indra menjelma menjadi manusia dan menghampirinya.
“Selamat malam.”
Rara Ayu memandangi pemuda yang tiba-tiba saja ada di sisinya, terkejut namun cepat menguasai diri. “Siapa?”
“Aku Indra.”
“Kau bukan penduduk pulau ini.”
Indra tersenyum, kemudian duduk di sisi Rara Ayu. Yang belakangan memandanginya bingung.
“Aku sering berada di pulau ini. Hanya saja kau tidak pernah melihatku.”
Rara Ayu memiringkan kepala. “Aku harus pulang. Kau akan berada di sini lagi besok malam?”
“Ya.”
Rara Ayu tersenyum, kemudian berdiri. Pelan-pelan ia berjalan pergi. Kalau saja ia menoleh, ia akan heran mendapati Indra sudah tidak berada disana.

**

Setiap malam, Indra selalu mengunjungi Rara Ayu. Dan Rara Ayu juga selalu menunggu pemuda asing itu dengan setia, tidak pusing mempertanyakan siapa ia sebenarnya.
Mereka telah jatuh cinta.
“Aku ingin memberikan hadiah untukmu,” ujar Indra sembari mempermainkan ujung rambut Rara Ayu yang panjang.
“Apa?”
“Apakah kau suka jika hujan turun di pulau ini?”
Mata Rara Ayu berbinar. Ia mengangguk.
“Jangan berkedip. Saksikanlah.”
Dan dalam sekejap hujan turun. Bukan gerimis, bukan badai, hanya sekedar hujan. Berima, basah, menyenangkan. Seluruh penduduk kota kegirangan. Pulau mereka tidak lagi kering.
“Selama aku masih mencintaimu, hujan ini akan selalu turun.”
Rara Ayu memandangi kekasihnya. Dibawah hujan. Basah kuyup, namun anehnya tidak kedinginan.
“Siapa kau sebenarnya?” tanya gadis itu. “Aku tahu kau bukan orang biasa.”
“Aku memang bukan orang biasa.”
“Lalu?”
“Lalu aku mencintaimu, yang orang biasa.”

**

Demikianlah hujan tidak pernah berhenti hadir di pulau itu. Kadang dibarengi matahari sehingga muncul pelangi. Namun tidak pernah merusak, apalagi mematikan. Indra menepati janjinya. Ia terus mencintai, dan hujan terus ada.
Hanya saja, sebenarnya Indra sudah beristri seorang Dewi bernama Saci. Ulah Indra dan kisahnya bersama Rara Ayu akhirnya terdengar juga oleh Saci. Murka, Saci memergoki keduanya ketika sedang bersama.
“Inikah manusia yang begitu kaucintai itu?”
Indra terperangah menyadari kehadiran istrinya tersebut. Sementara Rara Ayu yang tidak tahu menahu hanya bisa memperhatikan dalam kebingungan.
“Kau seharusnya tidak datang kemari,” ujar Indra dingin.
“Aku adalah seorang dewi. Tidak seharusnya kau menempatkan dia di posisiku.”
“Tidak ada yang menempati posisi istriku selain kau.”
Saci begitu tenggelam dalam amarah sehingga tidak lagi bersedia mendengar perkataan Indra. Ucapan berikutnya tertuju pada Rara Ayu.
“Kau, mulai sekarang kau kukutuk menjadi raksasa!”
Dan terjadilah perubahan pada diri Rara Ayu. Tubuhnya bertambah tinggi dan besar, muncul taring pada mulutnya. Rara Ayu menangis, namun yang terdengar malah geraman. Penduduk kota yang mendengar geraman itu terbangun dari tidur masing-masing dan mulai menyalakan obor.
Saci memandangi Indra. “Sebagai Dewa Perang, tugasmulah melenyapkan raksasa ini.”
Indra terpaku. Ia tidak mampu membunuh raksasa di hadapannya!
“Bunuh dia, Indra. Nyawanya seharusnya adalah milik Yama, raja neraka.”
Indra menangis. Tidak menyangka cintanya akan mencelakakan Rara Ayu hingga seperti ini. Namun seperti yang dikatakan Saci, tugasnyalah untuk membunuh raksasa.
Indra melangkah menjauh, membalikkan tubuh pada raksasa yang mulai mengamuk. Tanpa menoleh ke belakang, ia arahkan senjatanya pada raksasa Rara Ayu. Melancarkan jurus kematian.
Sejenak kemudian, terdengar bunyi sesuatu yang besar terjatuh ke tanah.
Indra dan Saci sudah lenyap.

**

Penduduk pulau tidak pernah bisa menemukan Rara Ayu lagi. Mayat raksasa di pinggir pantai akhirnya mereka hanyutkan bersama, disertai panjatan doa pada Dewa Indra. Doa penuh terima kasih atas keselamatan mereka, terima kasih karena si raksasa tidak sempat mengamuk dan menghancurkan segalanya.
Dan hujan tidak pernah berhenti turun di pulau itu. Tidak pernah.
Hujan itu milik Rara Ayu, selamanya.

3 komentar:

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!