Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Kamis, 05 Agustus 2010

"Selalu Hujan Di Sini"

Oleh: skylablu
(skylablu.tumblr.com)

Kemarin hujan.
Hari ini hujan.
Dan Selita yakin besok pun akan hujan.
Sejak Selita lahir sampai sekarang telah menjadi gadis berumur 26 tahun, negeri ini tak pernah terlepas dari hujan. Dan sepanjang Selita tahu, negeri ini memang tak pernah tidak turun hujan.

Selita beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju jendela kamar yang sejak tadi sengaja tak ditutup agar bau tanah yang tersiram air hujan bisa masuk ke dalam kamar.

Selita menatap penuh kerinduan tetes-tetes hujan yang jatuh dari kanopi jendela kamarnya. Rasanya baru kemarin ia biasa tertidur setelah mendengar neneknya mendongeng tentang negeri mereka yang selalu hujan. Sekarang hampir tiba saatnya giliran Selita mendongeng tentang negeri mereka kepada anak-anaknya nanti.

Bau tubuh Nenek sangat khas dan tak terlupakan, sama tak terlupakannya dengan dongeng itu sendiri. Campuran antara bunga kenanga dan buah jeruk serta satu macam bau lagi yang Selita sampai sekarang tak dapat kenali. Dan sampai sekarang pun Selita masih ingat kata-kata Nenek tentang negeri mereka tercinta.


Selita, dengarkan Nenek. Apapun yang terjadi, jangan sampai kamu membenci hujan”

“Kenapa? Bukannya karena hujan kita jadi sulit keluar rumah, Nek?”

“Apa kamu tahu cerita tentang hujan di negeri ini?”

“Memangnya ada ceritanya?”

“Dahulu kala, ada seorang gadis cantik yang jatuh cinta pada seorang pemuda buruk rupa…”

“Kenapa gadis cantik itu bisa jatuh cinta dengan seseorang yang buruk rupa”

“Sabar, Selita. Nenek pasti akan menceritakan alasannya. Gadis cantik itu sering sekali dilamar oleh pemuda-pemuda tampan nan kaya. Bangsawan, pangeran, tuan tanah, bahkan kabarnya sang dewa hujan pun jatuh cinta padanya”

“Namun, tak ada satu pun yang dapat menggugah hati sang gadis seperti pemuda buruk rupa itu. Gadis cantik itu tak dapat menemukan hati yang sebersih hati pemuda buruk rupa pada pemuda-pemuda yang mengejarnya”

“Pemuda buruk rupa itu walaupun tidak tampan namun memiliki hati yang sangat baik. Saat sang pemuda dikucilkan oleh semua orang karena wajahnya, tak sedikit pun ia menyimpan rasa dendam pada orang yang merendahkannya”

“Gadis cantik tersebut sangat mengagumi lapangnya hati sang pemuda, yang selalu memaafkan setiap orang yang berbuat jahat padanya. Sang pemuda buruk rupa selalu tersenyum dan menyapa setiap orang dengan gembira walaupun orang-orang yang dia sapa selalu memalingkan wajah mereka”

“Namun semakin hari sang gadis memperhatikan sang pemuda buruk rupa, semakin ia merasa kasihan terhadap nasib sang pemuda. Sang gadis berfikir keras apa yang dapat ia lakukan untuk sang pemuda”

“Suatu malam, sang gadis mendapat kunjungan dari sang dewa hujan yang menaruh hati padanya. Sang dewa berkata jika sang gadis mau pergi ke kahyangan dan menjadi istrinya, maka sang dewa akan membantu sang pemuda mengubah nasibnya”

“Dalamnya cinta sang gadis pada pemuda buruk rupa membuat gadis itu menyetujui tawaran sang dewa. Saat itu juga sang dewa memboyong sang gadis ke kahyangan. Esoknya saat sang pemuda buruk rupa pergi mengunjungi sang gadis, ia tak dapat menemukannya. Sang gadis bagaikan lenyap tanpa bekas”

“Sesampainya di kahyangan, sang gadis langsung meminta sang dewa mematuhi janjinya. Maka sang dewa pun menjanjikan bahwa ia akan menurunkan hujan yang bisa merubah wajah sang pemuda dari buruk rupa menjadi sangat rupawan”

“Dengan menjadi rupawan, maka nasib sang pemuda akan berubah. Tidak akan ada lagi orang yang mengucilkan sang pemuda karena sekarang ia menjadi sangat tampan”

“Suatu ketika di hari yang cerah, turun hujan yang sangat deras. Sang pemuda yang sedang berkebun pun ikut kehujanan. Namun tanpa disadari ada sesuatu yang berubah di saat tetesan hujan jatuh pada wajah sang pemuda”

“Sejak itu setiap hari hujan selalu turun dan perlahan wajah sang pemuda sedikit demi sedikit berubah. Sekarang tidak ada lagi orang yang memalingkan wajah saat ia lewat atau mengejeknya saat ia menyapa”

“Perubahan ini tentu sangat mengejutkan sang pemuda karena ini tak pernah terjadi sebelumnya dalam hidupnya. Sang pemuda pun bingung mengapa semua orang tiba-tiba berhenti mengucilkannya. Sampai suatu hari ia melihat cermin”

“Wajah yang dulu selalu dihina sekarang sudah menjadi luar biasa rupawan. Dan pemuda itu akhirnya menyadari kemana hilangnya sang gadis. Ia akhirnya paham akan pengorbanan sang gadis”

“Pemuda itu seketika langsung menangis tersedu-sedu. Sang gadis telah menukar kebebasan dirinya demi kehidupan sang pemuda yang lebih baik. Dan tanpa sang pemuda ketahui, tak sedikit pun sang gadis menyesali plihannya di kahyangan sana”


“Jadi Selita, jangan sampai kamu membenci hujan. Karena hujan adalah bentuk pengorbanan cinta dan harapan akan kehidupan yang lebih baik yang selalu diidamkan sang gadis buat si pemuda buruk rupa”


Hembusan angin yang tiba-tiba masuk menyadarkan Selita dari lamunannya. Tanpa sadar, ia sudah tersenyum dari tadi mengingat-ingat dongeng sang nenek. Tanpa sadar pula ia mengelus-elus perutnya yang membuncit. Gilirannya mendongeng akan tiba tak lama lagi.



Kemarin hujan.
Hari ini hujan.
Dan Selita yakin besok pun akan hujan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!