Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Senin, 09 Agustus 2010

"If Love Was Enough"


Oleh : Erika Paraminda

There was a time
There was a place
And everything we had was innocent
I'd go back again
I touched your hand the day we met
There's just some things you don't forget

Aku mematikan tape mobilku yang melantunkan lagu yang dinyanyikan oleh salah seorang musisi favoritku yang namanya tidak terlalu bergaung seperti Paramore atau Katy Perry di negeri ini. Musisi itu bernama Graham Colton, musisi asal Okhaloma yang aku kenal lewat jejaring sosial, twitter. In some way, he’s follow me and I’m just curious with his music, hear it using iTunes Store dan pada hari yang bersamaan langsung membeli albumnya di iTunes Store. Aku amat sangat menyukai lirik musiknya yang memang cukup menyentuh, I’m a guy that value music dari liriknya bukan dari artis yang mempopulerkan lagu atau iramanya saja.

Namun, kali ini aku lebih memilih untuk menghindari lagu-nya yang berjudul If Love Was Enough yang ia lantunkan. Lagu ini mengingatkan aku kepada sosok Widia, temanku, sahabatku, kekasihku yang amat sangat aku cintai. Aku menyalakan lampu sen dan mengendarai mobilku menuju badan jalan, aku resah, amat sangat resah jika mengingat Widia. Aku melepaskan peganganku dari setir mobil, menyandarkan kepalaku, memejamkan mataku, berusaha menghilangkan sosok Widia dari pikiranku. Semakin ingin aku menghapus sosok gadis berbadan mungil, berparas manis nan lembut yang merupakan penegasan dari garis keturunan dirinya yang Jawa Ningrat itu, senyumnya yang lebar karena kawat gigi yang ia gunakan, tatapannya, sentuhannya, justru membuatku semakin mengingatnya.

‘Aarghhh!’ teriakku dalam hati. Aku amat sangat merindukannya, amat sangat ingin memeluknya, I will do everything just to make her happy. EVERYTHING. Aku menutup mataku dengan tanganku, aku bahkan tidak tahu apa yang sedang aku lakukan saat ini, dalam hati mungkin aku berharap tindakanku ini dapat membuat otakku berhenti menciptakan bayangan-bayangan Widia di dalam pikiranku.

If love was enough I'd wrap it around you
If love was enough to make you stay
If love was enough it would surround you
If love was enough for you
Aku kaget mendengar lantunan lagu If Love Was Enough itu, bagian reff-nya. Aku sudah mematikan tape radioku, ‘Kenapa lagu ini masih menghantuiku?’ batinku sambil menatap tape radioku yang layarnya mati. Aku mencari asal suara lagu Graham Colton ini, meraba tas ranselku yang ada di sampingku.

It's never enough
So I'm giving you up
All the love in the world it'll never be enough for you

Akhirnya setelah mengeluarkan seluruh isi dari dalam tas ranselku, aku menemukan pelaku yang membuat aku harus mendengar lagu yang membuatku teringat pada kehidupanku yaituhandphone-ku. Handphone yang aku letakkan di dalam dashboard mobil. Aku masih belum mengganti ringtone-nya, ‘Ah, bisa-bisanya aku lupa!’ batinku sambil menatap layar handphone-ku.

Incoming Call
Ariana Kardelia

Aku menekan tombol ‘Answer’, “Knapa Na?’ tanyaku malas.
“Kamu dimana?” tanya Ariana dengan nada suara khawatir.
“Masih di jalan tol, kira-kira 30 menit lagi sampe rumah..”jawabku seadanya.
“Dek, ayolah.. berdamai dengan Widia..”
“Emang lebih mudah berbicara dibandingkan melakukan Na, you don’t know what I’m dealing with..” ucapku lagi.
“Ayolah Dek, berdamailah.. kamu akan lebih tenang..”
“Na, Widia meninggalkan aku disaat aku menyerahkan hatiku sepenuhnya untuk dia. Nana ngapain telpon Wira? Hanya nanya kabar saja?”
Ariana terdiam, nafasnya tidak teratur, ‘Apa yang ia sembunyikan?’ batinku penasaran. Lima detik penuh rasa penasaran berlalu, Ariana menarik nafas panjang, “SOS..” ucapnya kemudian. Aku diam terpaku, samar-samar aku dapat mendengar Ariana memanggil namaku diseberang, tapi aku tidak perduli, aku membanting handphone-ku ke kursi, segera menghidupkan mobil, banting stir untuk memutar mobilku dan mengendarai mobil ini secara gerasa-gerusu menuju lokasi yang 1 minggu ini aku hindari.

Selama perjalanan, pikiranku melayang-layang ke kejadian 2 minggu lalu.
Aku mengunjungi Widia, ia baru saja kehilangan segalanya 1 bulan yang lalu karena kecelakaan pesawat yang dialami kedua orang tuanya. Ia kehilangan orang tua dan kehilangan kekayaannya, Ayahnya diam-diam memiliki banyak hutang karena kebiasaan buruknya berjudi, Widia sebagai anak semata wayang Deni Prakoso mendapat limpahan harta kekayaan Ayahnya. Tapi harta peninggalan Ayah dan Ibunya hanya bisa ia rasakan selama 1 minggu, karena seluruh hartanya digunakan untuk membayar hutang-hutang Ayahnya atas perintah keluarga besar Widia. Widia Putri Prakoso, gadis baik hati yang terlalu terikat dengan kehidupan socialita-nya, tidak mampu menerima keadaan dimana ia kehilangan segalanya. Ia tidak bisa lagi menikmati keindahan hidup kalangan atas, ia kehilangan harta dan yang lebih parah lagi ia ditolak keluarga besar Ayahnya karena dianggap membawa aib untuk keluarga Prakoso.

Dua minggu lalu aku datang mengunjungi Widia yang tinggal sementara di rumah Tantenya, saudara yang berasal dari keluarga Ibunya. Wanita yang ramah dan sederhana yang tinggal di kampung kecil di gemerlapnya Jakarta. Widia terlihat tidak bahagia, wajar saja, transformasi status ekonomi bukanlah hal yang mudah untuk gadis ningrat seperti Widia. Aku datang membawa bunga anggrek, bunga yang menjadi favorit Widia dan sebuah kotak kecil yang dibungkus oleh kain beludru berwarna merah.

Aku berniat melamar Widia malam itu.

Aku mungkin masih terdaftar sebagai mahasiswa di universitas swasta yang ada di Jakarta dan belum mapan secara ekonomi, tapi aku teramat mencintai Widia, melihatnya sedih dan sendirian seperti ini justru membuat hatiku hancur. Aku awalnya berbincang-bincang dengan Widia, mengenai hal-hal sederhana, ia menjawab seadanya, tanpa antusiasme dan semangat layaknya Widia yang aku kenal. Aku tidak pantang mundur, aku menggenggam tangan Widia dan beranjak dari dudukku untuk berlutut dihadapannya.

“Widia, aku tahu tindakanku ini bisa dibilang bodoh. Aku berlutut di hadapanmu untuk memintamu menjadi bagian hidupku, di saat bersamaan aku sadar bahwa aku tidak sekaya Ayahmu, aku bukan keluarga ningrat dan aku belum mapan. Tidak ada yang bisa aku tawarkan dari lelaki seperti diriku ini selain rasa cintaku yang dalam dan komitmenku untuk membahagiakanmu dan melihatmu tersenyum lagi.” Ucapku dengan suara yang amat sangat tidak terkontrol, aku sadar bahwa aku berbicara dengan sangat terbata-bata, terdapat beberapa kesalahan dalam menentukan jeda dalam menyatakan kalimatku.

Aku berusaha mengontrol diriku dari evaluasi berlebihan yang biasa aku lakukan terhadap diriku, aku menelan ludah dan mengeluarkan kotak kecil yang dilapisi beludru itu, aku membuka kotak itu dan memperlihatkan cincin emas putih di dalamnya. Widia menatap kotak itu, selama 10 atau 15 detik yang seolah-olah terasa bagai berabad-abad untukku.

Widia tersenyum, ia menyentuh pipiku. Aku sudah siap untuk melompat kegirangan, tiba-tiba ia menggeleng dan menutup kotak kecil itu. Ia berkata maaf sambil menundukkan kepalanya menghindari tatapanku. Aku berusaha menanyakan alasannya menolakku, semua kemungkinan aku keluarkan, ‘Status ekonomi keluargaku yang hanya menengah? Kemapanan ekonomiku? Sikapku?’

Widia menggeleng lemah, “You’re a wonderful man, Wira..” ujarnya.
Aku menatap Widia tidak percaya. Ia menundukkan kepalanya menghindari tatapanku. Terbersit satu alasan yang tidak mencerminkan kepribadian Widia, aku ragu untuk menyudutkan Widia dengan hal ini. Namun tanpa aku sadari, kata itu ternyata meluncur juga dari mulutku, “Ini semua gara-gara Yudit kan? Mantan kamu yang jauh lebih kaya?” Widia mengangkat kepalanya, ia menatapku dalam dan lebih memilih untuk diam.

***

“Tok.. tok.. tok..” jendela mobilku diketuk oleh seseorang, aku tersadar dari lamunanku. Seorang tukang parkir memintaku untuk memarkirkan mobilku di space kosong yang tersedia dan bergerak dari posisiku saat ini karena menghalangi mobil-mobil lain. Aku memarkir mobilku dan berjalan cepat melewati sekumpulan orang, SOS yang diucapkan oleh Ariana adalah pertanda, ia memberitahukan aku bahwa aku bisa saja kehilangan Widia.

Aku menghampiri lelaki berkacamata yang seolah sudah menunggu kehadiranku itu, ia berdiri sambil menatapku. Belum sempat aku bertanya ada apa, ia sudah berkata “Relakan dia..” Tentu saja aku menolak, tapi ia menatapku penuh arti, “sudah terlambat Wira..” ucapnya.

Lelaki itu adalah ayahku, ucapan beliau seolah mengembalikan mimpi burukku 1 minggu lalu, 1 jam setelah aku meninggalkanWidia, ia berusaha membunuh dirinya sendiri dengan gantung diri. Harusnya aku tahu, harusnya aku menyadari keanehan Widia, tapi aku terlalu sibuk dengan rasa malu akibat penolakan Widia. Ia langsung dibawa ke rumah sakit, aku ikut mengantar Widia, ia baik-baik saja tapi dinyatakan tidak stabil dan akhirnya ia masuk ke rumah sakit jiwa ini. Aku mengintip ke dalam kamar bernomor 15 ini, kamar Widia, ia terbaring lemah di tempat tidur, tangan kanannya dibalut sebuah perban yang dihiasi oleh warna merah segar, warna darah, ia berusaha mengakhiri hidupnya lagi.

Aku sudah menyerahkan semuanya untuk Widia, hatiku, komitmenku dan cintaku. Namun ketiga hal itu belum cukup untuk membahagiakan Widia. Cintaku tidak cukup untuk menolong Widia. Ayahku yang saat ini berstatus sebagai dokter mental Widia menepuk bahuku lembut. “Let her go..” ucapnya.

Writing Session Day 1 (for me), tema : interpretasi lagu.

If Love Was Enough by Graham Colton

There was a time
There was a place
And everything we had was innocent
I'd go back again
I touched your hand the day we met
There's just some things you don't forget
You were standing in your dress without your shoes
That's how I remember you
If love was enough I'd wrap it around you
If love was enough to make you stay
If love was enough it would surround you
If love was enough for you

There was a road we never took
Through my eyes I see how it looks
It was everything I know we could have been
But I can't go back again

[chorus]
If love was enough I'd wrap it around you
If love was enough to make you stay
If love was enough it would surround you
If love was enough for you

It's never enough
So I'm giving you up
All the love in the world it'll never be enough for you

If love was enough
I'd wrap it around you
If love was enough maybe you'd stay
I still remember when love was enough
And you let it surround you
Now it's never enough

If love was enough I'd wrap it all around you
If love was enough maybe you'd stay
And you'd still be here with me

If love was enough it would always surround you
If love was enough for you
If love was enough for you

3 komentar:

  1. Yeiy, akhirnya diposting juga..
    Pardon me for typo atau peletakan tanda baca yang tidak sesuai.. :)

    BalasHapus
  2. Kisah yang mengalun bersama lagu. Intepretasi yg bagus utk lagu yg disajikan. If love was enough for her, I am sure she'll stand through the problems. It's a simple good story attaching the song lyrics. Good work. Keep writing with heart and brain!!

    BalasHapus
  3. Hai! Terima kasih sudah baca dan menyempatkan diri untuk mengomentari tulisan ini :)

    BalasHapus

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!