Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Senin, 09 Agustus 2010

"Pat, Jim dan Jennifer" #Sesi8

Oleh: Wicak Hidayat
http://manterakata.blogdetik.com


Pat mengendarai truknya, sebuah mobil bobrok warna biru muda yang nyaris tak layak untuk dikendarai, lewat padang ilalang yang makin menguning.

Dalam lukisan, pikir Pat, pemandangan ini pasti dianggap indah. Namun dalam kenyataan, ini hanya satu lagi tempat tak terawat yang menambah depresi warga Rockville.

Ia mengunyah permen karet, sudah hambar setelah berjam-jam. Meludahkannya ke pinggir jalan.

Jika mobil ini bisa terbang, pikir Pat, ia pasti sudah berjam-jam jauhnya dari kota sialan ini.

Brrrttk-trk-pfft..sh..sh..

Dan tepat saat pikirannya menerawang terdengar suara mesin yang sudah terlalu akrab di telinganya. Suara yang mengingatkannya pada batuk menahun.

Sial! Umpat Pat, sepertinya mobil itu akan mogok lagi.

***

Jim duduk di beranda rumahnya. Menyalakan rokok yang ketiga. Belum ada tanda-tanda Ol' Pat datang dengan mesin rongsokannya.

"Shit Pat," umpat Jim, "kita kan harus buka toko!"
"Apaaa Jiiim?" sebuah suara dari dalam rumah terdengar.
"Tak ada apa-apa Ma!"
"Aku pikir kau memanggilku tadi?"
"Tidak Ma!"
"Okeee. Kau belum berangkat Jiim?"
"Belum Ma! Pat belum datang!"

Jim adalah anak ketiga dari empat Goulds bersaudara, semuanya laki-laki. Henry, kakaknya yang paling besar, meninggal dalam sebuah kecelakaan motor. Garth, yang kedua, tak diketahui rimbanya sejak gagal menjadi atlit Football.

Adik Jim, Michael, adalah satu-satunya yang punya harapan besar. Ia masih bersekolah dan punya nilai cukup bagus. Mungkin Mikey lah yang nantinya bisa meninggalkan kota terkutuk ini.

Demi memberi kesempatan pada Mikey, Jim mempertaruhkan segalanya pada sebuah toko di Rockville Mall. Sebuah ruang kecil yang disewanya dengan harga diskon, patungan bersama Pat.

Drrrmmm...trk trk.. drmmm..

Akhirnya Pat dan truk busuknya datang juga. Jim bergegas menuju kursi penumpang.

"Shit Pat! Lama juga kau?"
"Ah. Kau tahu Jim, si tua berkarat ini!" ujar Pat sambil nyengir.

***

Rasanya baru kemarin Rockville Mall akan diresmikan. Pusat perbelanjaan di pusat kota Rockville, Maryland, ini akan menghidupkan kembali perekonomian yang tersendat-sendat seperti truk tua Pat.

Tapi sebenarnya hal itu sudah hampir sepuluh tahun lalu. Dan hingga kini Rockville Mall masih tetap sebuah bangunan usang yang penuh janji, tapi tak pernah menghasilkan.

James Gould dan Patrick Harvey adalah duet pemilik dari sebuah toko musik dan memorabilia di Rockville Mall. Pegawai mereka adalah seorang gadis muda bernama Jennifer Hadersham.

Jika ada yang menanyakan pada Jen, dia akan berkata pekerjaan di toko itu hanya sementara saja. Semata-mata untuk mengisi waktu sebelum ia pergi meninggalkan Rockville dan menjadi bintang di Los Angeles atau New York.

Kenyataannya, Jen sudah delapan tahun ini bekerja dari toko ke toko di Rockville. Tiga tahun terakhir dihabiskannya di toko musik Andrenaline milik Pat dan Jim.

***

"Hi Jen," sapa Pat.
"Halo Pak! Terlambat lagi hari ini?" Jen membalas sapaan Pat sambil terus berjalan bersama menuju toko.
"Ha ha ha! Berapa lama kau menungggu?"
"Tak lama, aku sempat beli milkshake dan melihat-lihat bangunan baru di depan," jawabnya.
"Yeah. Semoga saja bakal banyak pelanggan dari sana ya. Makin lama aku merasa kita seperti berjualan di kota mati," ujar Pat sambil menatap ke seberang jalan ke Montgomery County Executive Building.

"Hai Jim!" ujar Jen ceria.
"Hei Jen. Ada cerita apa pagi ini?"
"Well, toko depan kita tutup lagi," ujarnya santai.
"Shit! Pak tua Andrews?"

***

Seperti hari-hari sebelumnya, ketiga orang itu nyaris tak melakukan apa-apa sepanjang hari.

Beberapa orang mungkin lewat, melongok-longok sebentar lalu kembali berlalu. Jika beruntung akan ada satu-dua orang yang bertanya sesuatu, lalu Jim atau Pat akan berbincang dengan orang itu agak lama. Biasanya seputar musik, atau football.

Tapi yang akhirnya membeli sesuatu nyaris tak ada.

Hingga sore hari mereka pun bisa dengan leluasa melakukan pembukuan. Tanpa perlu ruwet karena terganggu oleh pelanggan.

"Gimana Jim?" tanya Pat.
"Shit Pat! Kau tahu lah, angkanya benar-benar tidak baik. Sama sekali tidak baik."
"Aku masih bisa gajian tidak ya?" tanya Jen santai.
Jim menoleh ke arah gadis itu, mengedipkan mata dan tersenyum.

Dari seharusnya 55 toko yang ada di Rockville Mall, kini tersisa hanya segelintir saja. Meskipun namanya sudah diubah menjadi Commons at Courthouse Square, tak ada perubahan pada keberuntungan di tempat terkutuk ini.

***

Di parkiran, usai menutup toko, ketiganya menatap pada bangunan yang semakin usang itu.

"Kau tahu Jim," kata Pat, "aku benar-benar punya harapan besar pada tempat ini!"
Jim menghisap rokoknya, menghembuskan asap, lalu bergumam. "Aku juga Pat, tadinya aku juga."
"Hey Guys." Jennifer menyela. "Aku mau berkata sesuatu."
Kedua laki-laki itu terdiam.
"Sepupuku sudah berhasil di New York. Dan, sepertinya, aku akan menyusulnya akhir pekan ini. Kau tahu, berusaha mewujudkan mimpiku di Big Apple," ujar Jen.
"Maksudmu apa Jen?" tanya Pat, "kau akan pergi?"
"Yeah Pat, dia akan pergi. Kau tidak dengar?" Jim menyahut.
"Sorry Guys. Tapi aku tahu pembukuan kalian tidak bagus. Gunakan saja gajiku yang terakhir untuk kalian. Sepupuku sudah mengatur semuanya, dan aku masih punya tabungan dari hari-hari kemarin kok."

Pat tertunduk. Ia lalu mendekat pada Jennifer, sambil bergumam. "Kau benar-benar akan pergi?"
"Sorry Pat. Aku sayang kamu, tapi ini adalah kesempatanku. Apakah kau akan membiarkanku menyesal seumur hidup?"
Pat nampak berkaca-kaca. Sepertinya ia benar-benar patah hati.
"Oww Babe. Ayolah, kau tahu kan kita tak pernah benar-benar. Maksudku, ini semua hanya sebagai pelepas rasa bosan saja."

Pat tersentak. "Bosan!?"
"Yeah, kau tahu maksudku kan?"
"Damn It Jen! Aku, aku sudah siap melakukan apa saja untukmu. Kau tahu nggak sih!?"
"Apa maksudmu Pat? Kita kan cuma iseng-iseng saja? Kau, well kau boss-ku, dan kita rekan sekerja dan semacam itulah. Tapi apa yang kita lakukan cuma seks!"

Pat berpaling. Menjauh sambil menggerutu.

"Hey. Sorry soal itu Jim," kata Jen.
"Ah tak apa. Aku tahu kita juga cuma iseng doang kan?"
"Well. Sebenarnya aku agak-agak berharap padamu Jim."
"Jangan becanda Jen," kata Jim santai.

Jennifer mendekat. Mencium bibir Jim. Lalu berbisik. "Aku serius, aku ingin kau ikut aku ke New York."

Jim diam. Mendekatkan wajahnya pada Jennifer. Lalu berkata pelan. "Pergilah Jen. Dan jangan pernah kembali ke Rockvile!"

(@writingsession 8 Agustus 2010. Inspirasi dari lagu "(Don't Go Back to) Rockvile" - R.E.M)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!