Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Kamis, 05 Agustus 2010

"Kaki Alice"

Oleh: Jia Effendie
(jiaeffendie.tumblr.com)

Kepada Yth.
Kaki kiri Alice
Di mana pun kau sekarang berada

Cepatlah pulang,
Aku merindukanmu.
Kita akan belajar mengayuh sepeda, aku tak bisa melakukannya tanpamu.

Salam sayang,
Kaki kanan Alice[1]


Kaki kiri Alice sudah lama tersesat.  Tak ada yang tahu keberadaannya.  Sejak granat hijau raksasa membunuh kedua orang tua Alice, Kaki kanan Alice tidak pernah bertemu lagi dengan Kaki kiri. Dan kini Kaki kanan merindukannya setengah mati. Ia kangen menari, kangen menyilangkan kaki saat main pesta minum teh sore hari, dan walaupun konyol, kadang-kadang ia kangen melakukan tarian Lobster Quadrille[2]. Tetapi, hal yang paling membuat Kaki kanan rindu pada Kaki kiri adalah, karena ia sangat ingin naik sepeda. Ia ingin belajar mengayuh sepeda, dan ia tak bisa melakukannya sendiri.
Granat hijau yang sama yang memisahkan kaki kiri dan kaki kanan Alice. Tentu saja, anak itu tidak sadar ketika kaki kirinya terpental setelah terpenggal oleh pecahan kaca. Manusia memiliki mekanisme perlindungan diri terhadap rasa sakit, diantaranya adalah ketidaksadaran.  Alice sama sekali tidak tahu, tetapi kaki kanannya tahu. Seandainya kaki kanannya punya tangan, ia akan meraih kembaran cerminnya dan memeluknya erat-erat, agar nanti ketika pertolongan tiba, dokter dapat menyambungkan kembali kaki kiri yang hilang ke tubuh Alice.
Setiap saat selagi bisa, kaki kanan akan menulis surat pada kaki kiri, memohon agar ia kembali. Kaki kanan juga menulis surat pada tuhan, memohon agar kaki kiri kembali. Akan tetapi, keduanya tak menjawab. Ditambah lagi, Alice tampaknya tidak terlalu peduli walau kehilangan satu kakinya. Dia tetap anak ceria yang suka melompat-lompat sambil menyanyi.
Kaki kanan merasa kesal karena Alice tak sepaham dengannya. Seharusnya, sebagai pemilik kaki, Alice peduli. Seharusnya Alice INGIN belajar naik sepeda. Dan untuk naik sepeda, Alice membutuhkan satu kakinya lagi. Seharusnya Alice membantu demi kelancaran rencana ini. Bukankah jika ada kaki kiri, Alice akan lebih bebas bergerak? Alice bisa belajar menari balet, Alice bisa berlari-lari, dan bukannya melompat-lompat dibantu kruk seperti orang cacat. Tunggu, Alice memang cacat. Tetapi, jujur saja, Alice tidak terlalu memedulikan itu.
Alice senang melompat dan menyanyi, mungkin seperti kelinci, atau kanguru, atau naga pelompat. Eh, tidak ada ya yang namanya naga pelompat? Pokoknya begitu deh. Terkadang Alice hanya menyanyi seperti ini: “La la la la la,” sambil melompat-lompat gembira dengan satu kakinya. Akan tetapi si kaki kanan melakukannya dengan berat hati dan kesal. Seandainya ia punya wajah, ia pasti cemberut.
Namun, selain melompat sambil menyanyi, Alice juga senang membaca sambil tiduran. Untuk kegiatan itu, ia tak memerlukan kakinya. Dan biasanya, kaki kanan menjadi bosan. Ia itu kaki. Kaki digunakan untuk berjalan, berlari dan menari. Mungkin sesekali untuk melompat, atau mengganti saluran TV—kalau Bibi Mira tidak melihatnya. Tapi untuk tiduran? Tidak. Kaki harus digunakan. Dan tanpa keberadaan kaki kiri, kaki kanan seringkali kesepian. Satu-satunya penawar sunyi adalah dengan digunakan. Dengan begitu, kaki kanan tidak perlu terus menerus memikirkan ketiadaan kaki kiri.
Sayangnya, sejak kehilangan kaki kirinya, Alice lebih senang menghabiskan waktunya di kamar – walaupun dia masih senang melompat-lompat sambil menyanyi “La la la la la.”
Oleh karena itu, kaki kanan menyusun rencana.
Ia harus membuat Alice mencari kaki kirinya!


[1] Penyaduran secara asal surat Alice kepada kaki kanannya yang memanjang setelah makan kue Eat Me.
[2] Tarian yang diperkenalkan oleh The Mock Turtle dan Gryphon dalam cerita Alice in Wonderland.

4 komentar:

  1. hmmmm sesama penulis pemula, saya tidak berhak mengkritik tulisan ini. Namun apa yg dituliskan disini memiliki arti yang tersirat. Bukan tersurat. Dibutuhkan "rasa" dalam membaca karangan penulis. Walaupun ditengah-tengah saya mulai merasakan adanya alur yg lambat, namun saya menikmati kepedihan yg berusaha disampaikan. Sebenarnya karangan ini bisa dibikin lebih singkat, namun padat. Saya yakin akan lebih mengena. Keep writing!!

    BalasHapus
  2. sebenernya sih ini belum selesai, ada cerita lain :D hehehe

    makasih :)

    BalasHapus
  3. eh anyway, kalau ada sesuatu yang mau dikritik, silakan :)

    BalasHapus
  4. Saya tidak suka mengkritik :) mnrt saya kritikan itu hanya menghancurkan. Saya lebih suka memuji apa yg sudah bagus. Supaya nanti jadi lebih bagus lagi dan kuat karakternya. Kunjungi tulisan saya juga, butuh polesan dari penulis lainnya Just Another Poem atau blog saya di www.ganggangbiru.rumahtulis.com

    BalasHapus

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!