Oleh: Calvin MS (calvinmichel@gmail.com)
“Ibu, kenapa Akasha selalu mengeluarkan air mata? Apa yang membuatnya sedih?” tanyaku kepada ibu. Akasha adalah samudra biru yang berada di angkasa. Sudah lama sekali Akasha menangis, menambah air yang berada di bumi.
“Entahlah anakku. Semenjak hari Akasha mulai menangis, dia tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan kita. Kata-kata yang kita tuturkan tidak sampai padanya. Akasha menjadi jauh, tidak seperti dulu.” Kata ibu.
Tidak ada yang tahu kenapa Akasha mulai menangis tanpa henti. Sudah lama sekali kami tidak melihat Mata milik Hari melintasi samudra di angkasa karena tangisan Akasha. Desa kami mendapat ancaman kelaparan, karena kemungkinan kami akan gagal panen.
“Dewan tuhan sedang berusaha berbicara pada Akasha. Tunggulah anakku, ibu yakin mereka bisa mengatasi ini, karena merekalah orang-orang yang paling dekat dengan Akasha.”
Dewan tuhan adalah lembaga tertinggi di desa kami. Mereka terdiri dari orang-orang yang dapat berbicara dengan bahasa yang dituturkan oleh Akasha. Spesies mereka berbeda dengan kami. Kulit mereka berwarna merah muda, hidung mereka bundar, dan mereka punya ekor pendek. Sebetulnya aku tidak nyaman dengan keberadaan Dewan Tuhan karena spesies mereka terlalu berbeda dengan kami, tapi karena mereka yang mengenalkan kami bahwa Akasha bisa mengabulkan permohonan kami, kami menerima mereka sebagai bagian dari desa.
Sayangnya, kami tidak bisa berbicara dengan bahasa Akasha, hanya dewan tuhan yang bisa berbicara dengan bahasa Akasha. Kami rakyat biasa, tidak boleh mendengar bahasa Akasha, karena katanya , kami bisa mati.
Dan itulah yang aku ingin tahu selama ini, kenapa dewan tuhan tidak mati mendengar bahasa akasha? Apa yang membedakan kami dengan mereka?
Tangan kecilku menggangeng ibu, dia juga tidak bisa menjawab. Katanya, aku terlalu muda, aku akan mengerti jika tumbuh besar dan dapat membaca Aksara.
*
“Anakku, aku tahu kau penasaran dan ingin mendengar bahasa Akasha, tapi ibu tidak ingin kehilanganmu. Kau bisa berjanji tidak akan melakukan yang aneh-aneh kan anakku?” Tanya ibu. Aku mengangguk, sebenarnya berbohong. Aku hari ini ngin menyelinap ke Rumah Dewan tuhan. Malam ini dewan tuhan akan melakukan percakapan dengan Akasha, aku ingin sekali mendengar bahasa Akasha! Rasa penasaranku bisa membuatku mati, jadi aku tidak keberatan jika mati.
Tidak lama setelah ibu keluar dari ruanganku, aku membuka jendela kamar dan lompat keluar. Akasha masih menangis walau alam sudah tertidur pulas. Apakah yang membuat Akasha sedih dan mengeluarkan tangisan begitu panjang? Aku berharap bisa mengetahuinya dengan mendengarkan percakapan para dewan tuhan dengan akasha.
*
Kakiku berlari menembus lumpur. Tidak ada yang terbangun di waktu seperti ini. Dewan tuhan telah menginstruksikan dengan tegas, pada saat mereka berbicara dengan Akasha, semua orang harus tidur karena mereka bisa mati jika mendengar bahasa yang mereka tuturkan.
Aku mau minta maaf kepada kedua orang tuaku karena melanggar janjiku. Aku mungkin akan mati muda karena mendengar bahasa itu, tapi aku yakin aku akan mati bahagia karena rasa penasaranku terjawab sudah.
Aku mendengar langkah. Ada anggota dewan tuhan sedang berjalan-jalan. Dia lebih pendek dari kami, dan sebenarnya berjalan dengan empat kaki. Dia tampak mengendus dengan kedua hidungnya, menengok ke kiri ke kanan, oh gawat, apakah dia mengetahuiku? Jantungku berdebar tidak karuan. Aku salah, ternyata anggota dewan tuhan berguling-guling di lumpur.
Aku sedikit takjub melihat perilaku aneh seorang – jika bisa dikatakan orang- dewan tuhan yang terhormat ternyata mengikuti perilaku ternak kami di kandang. Tapi aku tidak menggubrisnya, aku mengendap-ngendap melewati mereka, memasuki rumah Dewan Tuhan. Disinilah tempat paling suci di desa kami. Disinilah kami memanjatkan doa kepada Akasha, dan membayar upeti kepada dewan tuhan untuk diterjemahkan ke bahasa Akasha.
Tidak ada seorangpun di lantai pertama, perlahan-lahan kakiku mengendap-ngendap, berjalan kearah tangga. Telingaku bisa mendengar percakapan, tapi itu bahasaku, bukan bahasa Akasha.
“Ini benar-benar gawat, masyarakat desa ini resah karena Akasha tidak berhenti menangis.” Kata suara seorang.
“Jika begini terus kita bisa kehilangan mata pencaharian. Apa ada yang tahu kenapa Akasha tidak bisa berhenti menangis? Jika begini terus desa ini akan gagal panen, dan kita bisa-bisa kelaparan karena tidak akan ada yang percaya pada kita lagi!” jawab yang lain.
“Itulah masalah utamanya. Tidak ada seorangpun diantara kita yang tahu bahasa akasha. Orang-orang desa bodoh itu saja yang percaya pada kita.” Kata seorang yang lain.
“Dan untungnya mereka kira kita utusan dari tuhan dan tidak tahu spesies kita apa. Untunglah mereka tidak memelihara spesies kita! Kalau tidak mana percaya mereka kalau kita utusan Akasha.” Kata yang lain.
Otakku mendengar sesuatu yang hebat malam itu. Dewan Tuhan ternyata adalah palsu! Mereka tidak pernah bisa berbicara dengan bahasa Akasha! Pantas saja selama ini doa kami tidak pernah dikabulkan. Mereka bilang itu karena upeti kami kurang! Benar-benar keterlaluan, tunggu sampai aku katakan pada kepala desa!
“Siapa itu!?” salah satu anggota dewan tuhan yang tadi bermain lumpur ternyata sudah berada di bawah tangga. Aku kepergok! Oh tidak! Terror dan rasa ngeri datang saat aku melihat gigi taring mereka, dan mereka menguik-nguik “makan dia! Makan dia!”
*
Aku tidak pernah berlari sekencang itu dalam hiduku. Seluruh desa tertidur. Teriakan minta tolongku menjadi asap di tengah tangisan Akasha. Nguik-nguik, aku takut mendengar suara dewan tuhan. Mereka berlari lebih cepat dengan empat kaki mereka yang pendek tapi lincah.
Kakiku membawaku ke pintu masuk desa, aku berlari ke arah danau. Jalan buntu, para dewan tuhan mengejarku. Aku tidak rela dicabik-cabik oleh gigi taring itu. Aku melompat ke dalam danau. Menenggalamkan diriku.
Perlahan aku merasa jiwa ini lepas dari tubuhku. Aku perlahan menjadi segalanya, segalanya menjadi aku. Aku terbang… terbang menembus tangisan akasha, aku bisa melihat segalanya yang ada di dunia. Aku terbang mendekati samudra di angkasa. Ada sebuah gerbang raksasa disana, ada sebuah nama tertulis disana, dengan sebuah aksara yang belum pernah kulihat, tapi terasa familiar.
Sebuah ingatan yang terlupakan muncul dari sudut jiwaku. Ingatan ini terlupakan begitu aku lahir ke dunia ini. Sebelum aku terlahir, ada sebuah suara yang membisikkan sebuah nama, nama yang tidak sama dengan nama di tempat aku terlahir di dunia ini. Ah aku ingat lagi nama itu, nama itu kuperlukan agar aku bisa memasuki gerbang ini!
Gerbang itu lalu terbuka setelah aku menuturkan nama rahasiaku. Samudra di atas langit ternyata tidak seperti bayanganku. Kukira tempat itu adalah sebuah tempat yang sama dengan samudra di bawah sana. Tapi ternyata aku salah. Belum pernah aku melihat tempat begitu indah. Tempat yang kami kira samudra itu ternyata adalah sebuah taman. Ada dua pohon begitu indah di sana, dan ada empat sungai yang mengalir disana, mengalir begitu jauh sehingga airnya turun ke tempat kami tinggal.
Siapakah yang memasuki tempat ini?
Ada suara yang menggetarkan, menyeramkan. Aku menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari sumber suara itu. Ternyata ada sebuah sosok, duduk di atas takhta, terantai oleh rantai yang begitu panjangnya.
Apakah engkau Akasha? Tanyaku pada sosok terantai itu. Aku tidak bisa melihat wajahnya, karena ditutupi awan.
Banyak yang memanggilkudemikian, tapi Akasha adalah nama tempat ini. Katakan padaku bagaimana kau bisa tersesat disini.
Lalu aku menceritakan padanya tentang tangisan Akasha, dewan tuhan, dan kebohongan mereka, sampai akhirnya jiwa dan tubuhku terpisah dan sampai di tempat ini.
Sosok itu tampaknya ingin bergerak, tapi tidak bisa karena terantai.
Mari kita adakan perjanjian. Katanya padaku.
“Janji apa?” tanyanya padaku.
Aku akan mengembalikanmu ke tempat dirimu berada sebelum kau sampai di tempat ini, tapi kau harus membayar sesuatu, yaitu namamu.
Namaku? Nama yang mana tanyaku?
Tentu saja, nama yang dibisikkan oleh suara saat kau lahir di dunia ini. Kau tidak membutuhkannya jika kembali ke tempat kau hidup.
Aku berpikir, mungkin tidak ada salahnya menerima tawaran itu. Aku hanya ingin memberitahukan pada penduduk desaku bahwa dewan tuhan itu ternyata adalah palsu. Akasha itu tidak ada, karena akasha ternyata hanyalah sungai di atas langit yang tidak bisa dikendalikan oleh dewan tuhan.
Sosok itu mengulurkan tangannya. Rantai-rantai itu menahan dirinya untuk bergerak bebas. Tangan itu menarik sesuatu dari dadaku, sebuah mutiara. Disana ada sebuah ukiran yang bertuliskan namaku.
Aku sudah mendapatkan apa yang kucari. Sekarang tidurlah, saat kau kembali ke tempat itu, segala impianmu akan terkabulkan. Akasha tidak akan menangis lagi, dan para ternak yang mengaku mengenalku akan hilang dari sana.
Aku mengangguk. Menutup mataku. Rasa kantuk merayap begitu cepatnya, dan tanpa sadar aku sudah kembali ke tubuhku.
Tapi aku tidak berada di danau. Pakaianku tidak basah. Aku berada di kamarku. Sudah pagi. Aku tidak mendengar rintik-rintik tangisan Akasha.
*
Tidak ada yang mengingat bagaimana dewan tuhan pergi dari tempat kami. Tidak ada yang ingat kami pernah mengangkat ternak-ternak menjadi medium penghubung Akasha dan kami. Tidak ada yang tahu, aku juga tidak tahu kenapa.
Saat aku memandang samudra di langit, aku ingin tahu siapakah sosok itu. Kenapa dia terantai dia takhta yang begitu megah? Tapi pertanyaanku mungkin tidak akan terjawab, karena aku tahu, saat aku menyerahkan nama rahasiaku, aku tidak akan pernah memasuki tempat itu lagi.
Tapi itu tidak jadi soal, karena desa kami sekarang bahagia. Akasha tidak lagi menangis, dan kami tidak perlu membayar lagi upeti pada dewan tuhan. Dalam hati, aku berterima kasih pada dia yang duduk di takhta itu.
3 Agustus 2010
ceritanya keren... :) saya suka...saya ikut ngerasa deg-deg-an sewaktu membaca aku yang dikejar-kejar oleh dewan tuhan :)
BalasHapusGeez, Calv :) Jungian menikah dengan teologi. Fav part: pertemuan dengan sosok di takhta yang terantai.
BalasHapus"Aku akan mengembalikanmu ke tempat dirimu berada sebelum kau sampai di tempat ini, tapi kau harus membayar sesuatu, yaitu namamu."
wah, gaya penceritaannya beda, sosok dia yang duduk di takhta itu jdi tak tampak sekompleks yg di cerpen Sindrom Anzu (di Fantasy Fiesta) ya. yg ini lebih ke dongeng :)
BalasHapus