Oleh: Gabby Laupa
avezia.tumblr.com atau sipudel.blogspot.com
avezia.tumblr.com atau sipudel.blogspot.com
Well, Why Don't You Love Me like you used to do
How come you treat me like a worn out shoe
My hair's still curly and my eyes are still blue
Why Don't You Love Me Like You Used To Do.
How come you treat me like a worn out shoe
My hair's still curly and my eyes are still blue
Why Don't You Love Me Like You Used To Do.
Karla bersenandung pelan sambil merasakan hembusan angin yang menerpa wajahnya melewati jendela mobil yang sengaja ia buka. Perlahan tapi pasti, ia memacu mobilnya keluar dari kota Bandung. Ia ingin pergi dari semua kepenatan yang membayanginya sejak awal minggu ini. Pergi ke rumah nenek yang berada di luar kota menjadi pilihannya, dengan suasana tenang dan damai akan menjadi tempat pelarian yang tepat untuknya. Ia sudah berencana tidak akan berkomunikasi sama sekali dengan dunia luar untuk dua hari di akhir pekan ini. Dua buah ponselnya sudah tersimpan dengan damai dalam tasnya, tak terusik sama sekali hingga hari senin pagi.
Ain't had no lovin' like a huggin' and a kissin'
in a long, long while
We don't get nearer or further or closer
than a country mile
in a long, long while
We don't get nearer or further or closer
than a country mile
Lagu tahun 60’an yang berputar dari radio dalam music player di mobilnya membuat Karla tersenyum miris. Ironis, pikirnya. Entah ia pernah mendengar lagu tersebut dimana, pernah diputar di radio atau pernah menjadi soundtrack film yang pernah dilihatnya mungkin, lagu ini tak terasa asing di telinganya. Dan lagu ini seperti menyindirnya.
Well, Why Don't You Love Me like you used to do
How come you treat me like a worn out shoe
My hair's still curly and my eyes are still blue
Why Don't You Love Me Like You Used To Do.
How come you treat me like a worn out shoe
My hair's still curly and my eyes are still blue
Why Don't You Love Me Like You Used To Do.
Karla tidak ingin, tapi tanpa ia sadari di dalam pikirannya muncul sesosok pria dengan postur tinggi berkulit kecokelatan berambut ikal dan kacamata berbingkai penuh yang tak pernah lepas dari wajahnya. Tak terbayangkan bagaimana paniknya wajah lelaki itu saat ini, tak bisa menghubungi Karla sama sekali dan Karla juga tidak mengatakan kemana ia pergi. Terbesit rasa bersalah dalam hati Karla, tapi ia memang membutuhkan ini. Bukan ia tidak sayang pada lelaki itu, bukan ia tidak mau bersamanya lagi tapi Karla merasa hubungannya kali ini hambar, sedang tidak mengasyikkan dan membuatnya bosan. Bukan membuatnya bahagia malah semakin stress dengan semua yang ia jalani.
Ain't had no lovin' like a huggin' and a kissin'
in a long, long while
We don't get nearer or further
than a country mile
in a long, long while
We don't get nearer or further
than a country mile
Berasa dalam kota yang sama tidak menjamin hubungan tersebut akan berhasil atau tidak, ya kan? Hal itulah yang dirasakan Karla saat ini, ia merasa jahat terhadap laki-laki itu. Ia telah mengacuhkannya berhari-hari, tidak menggubris atau mengiyakan ajakan jalan-jalan bersama. Karla merasa hambar bersamanya ditambah lagi urusan kuliahnya yang semakin membuatnya jemu. Mungkin memang sudah saatnya untuk istirahat sejenak dan menjernihkan pikirannya.
Well, Why Don't You Love Me like you used to do
How come you treat me like a worn out shoe
My hair's still curly and my eyes are still blue
Why Don't You Love Me Like You Used To Do.
How come you treat me like a worn out shoe
My hair's still curly and my eyes are still blue
Why Don't You Love Me Like You Used To Do.
Mobil Karla memasuki perumahan sederhana di pinggiran kota Bandung, dari kejauhan terlihat rumah neneknya yang asri dengan halaman depan yang luas. Rumah nenek adalah dimana semua kenangan masa kecil Karla yang indah berasal. Dengan perlahan Karla menepikan mobilnya, ia mengambil tasnya dan keluar dari mobil. Pintu rumah terbuka, terlihat sesosok wanita tua dengan rambut yang hampir memutih semua dan keriput yang sudah tak bisa disembunyikan lagi tersenyum kepadanya. Karla tersenyum lebar, I’m home.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!