Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Kamis, 05 Agustus 2010

"Wristi"

Oleh: @mnovim

Di bagian terujung dari bumi ini, ada sebuah kerajaan bernama Kerajaan Rawikara. Di kerajaan itu, matahari selalu bersinar terang, menumbuhkan aneka tanaman dan pepohonan. Tanah di kerajaan itu pun subur makmur. Apa pun yang ditanam rakyatnya selalu tumbuh subur. Itulah sebabnya, setiap hari penduduk Kerajaan Rawikara selalu sibuk bekerja.
Pagi hari saat matahari terbit di timur, penduduk kerajaan Rawikara berduyun-duyun keluar rumah menuju sawah dan ladang masing-masing. Saat matahari terbenam, giliran penduduk di pesisir pantai yang keluar rumah untuk menangkap ikan. Seperti tanahnya, laut Rawikara pun penuh ikan. Begitulah hari-hari di Rawikara, semua bekerja tak ada yang berpangku tangan.
Hasil bumi yang berlimpah dan cuaca yang bersahabat membuat penduduk Rawikara hidup makmur dan bahagia. Namun, mereka melupakan satu hal, mereka melupakan Dewa Pencipta Alam. Tidak pernah mereka membawa sesembahan untuk Sang Dewa seperti dulu, saat Rawikara belum makmur.
Dewa begitu rindu bercakap dengan penduduk Rawikara. Maka Dewa memikirkan cara untuk kembali menyapa penduduk Rawikara. Maka, di suatu siang, Dewa menciptakan pelangi. Dewa berharap, rakyat Rawikara akan sejenak memandang takjub ke angkasa dan mengucap syukur atas anugrah Dewa. Namun, pelangi tidak lagi menjadi istimewa. Saat itu, rakyat Rawikara lebih tertarik mengawasi padi-padi mereka dari gangguan burung daripada memandang ke langit.
Melihat hal itu, Dewa menjadi sedih. Ia menangisi rakyat Rawikara yang terlalu sibuk itu. Air mata dewa jatuh bergulir ke bumi, membasahi seluruh wilayah Rawikara. Membasahi padi yang menguning, membasahi garam yang dijemur, membasahi irisan daging dan ikan yang dijemur di atap-atap rumah, membasahi pakaian yang baru selesai dicuci, dan membasahi anak-anak kecil yang sedang bermain.
Rakyat Rawikara sangat marah. Mereka kesal kenapa Dewa tega menghancurkan seluruh hasil panen dan kerajaan mereka. Setiap hari rakyat Rawikara tak henti-hentinya memaki-maki Dewa, sampai pada suatu ketika, mereka sudah benar-benar putus asa. Air mata Dewa yang tercurah ke bumi selama berbulan-bulan menjadi terlalu banyak hingga lumbung-lumbung padi mereka nyaris tenggelam, air laut meninggi, dan sungai-sungai meluap. Saat itu, barulah rakyat Rawikara, berduyun-duyun membawa persembahan, apa saja yang masih tersisa di rumah, dan memohon agar Dewa berhenti menangis. Mereka berjanji, akan tetap mengingat Dewa, walaupun mereka sibuk bekerja. Kaum laki-laki, perempuan, dan anak-anak bersembah sujud di hadapan Dewa.
Melihat kesungguhan rakyat Rawikara, Dewa pun tersentuh hatinya. Dewa berhenti menangis. Dan sejak itu, dalam waktu-waktu tertentu, Dewa menurunkan hujan, untuk memanggil pulang rakyat Rawikara. Untuk mengenang peristiwa itu, Raja Rawikara mengganti nama kerajaan yang tadinya Rawikara, berarti sinar matahari, menjadi Kerajaan Wristi, atau Kerajaan Hujan.

1 komentar:

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!