Oleh Maria Sekundanti
Aku tau, logika adalah sesuatu yang kubutuhkan tapi tak bisa kugunakan saat ini. Tidak untuk persoalan ini. Coba kau rasakan. Saat matamu tak dapat melihat keindahan lain selain melihatnya tersenyum; saat telingamu tak bisa mendengar merdunya alam membisikkan kata selain mendengar tawanya; saat panas gemuruh hatimu ketika melihatnya terluka. Tak ada sesuatu yang lebih logis untuk mengungkapkan kesederhanaan bahwa aku-jatuh-cinta. Anya. Gadis tak sempurna, tak apa.
Cinta. Aku membencinya. Benar-benar membencinya. Ia datang tanpa permisi, merayap seperti ilusi. Padat tapi tak pernah terlihat. Cair tapi tak puaskan dahaga. Kosong tapi terasa begitu pekat. Semua mengalir begitu deras. Bergejolak. Bergolak penuh semangat. Lalu tiba-tiba keheningan menyesap. Merayapi jantung yang berdenyut satu-satu. Lalu begitu saja semua hilang. Tak bersisa.
Tawa itu masih ada, tapi tidak bersamaku lagi. Senyum pelepas penat itu tetap di sana, tapi bukan milikku lagi. Bukankah hidup hanyalah sepenggal kisah tentang ada dan tiada? Ia datang tanpa undangan. Lalu hilang ditelan ilalang. Kemudian yang lain muncul dengan hingar bingar, lalu pergi dengan tangisan nanar. Begitulah siklus membawa kita memasuki arus penerimaan bahwa yang terjadi adalah apa yang seharusnya terjadi, dengan atau tanpa rencana. Lalu apa guna doa? Aku berucap kata, berhutang pada harapan yang nyatanya tak memberiku apa-apa. Kehilangan itu menyakitkan. Merelakan itu juga menyakitkan. Dan tak ada yang bisa kulakukan, itu yang paling menyakitkan.
Rindu ini terbalut luka yang tak hilang termakan usia. Waktu telah membawanya kembali pada kedai kopi di ujung jalan, pada relung kamar yang sepi, pada kursi taman di sampingku, pada bibir pantai petang hari. Semua tempat yang kukunjungi menjatuhkan namamu di ujung aksara. Tak terucap.
Aku masih di sana bersama sebelah sayapku yang patah. Tidak untuk sia-sia. Luka itu selalu mengingatkan bahwa kita pernah terbang tinggi. Terlalu tinggi. Melampaui batas mimpi. Sudah, tak bisa lagi aku pergi untuk menarik sauh yang telah tertambat. Jiwa ini telah memilihmu. Rindu pulang ke hatimu. Rumahku. Aku akan menunggu. Termangu. Sekalipun berdiri satu kaki di batas semu. Aku mencintaimu.
Langkahku ringan dan pasti. Kugenggam secarik kertas yang kau beri 20 tahun yang lalu. Isinya singkat: Keyro, aku mencintaimu. Kubakar tulisan itu di depan makammu, dengan harapan kau akan menemukan aku. Cinta. Tidak untuk dijamah. Tidak untuk direngkuh. Tidak juga untuk dimiliki. Tapi ia ada. Selalu nyata.
“Tunggu aku Anya, kita pasti akan bersama lagi...”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!