Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Kamis, 05 Agustus 2010

" Tersesat di ‘Selamanya’: Dongeng Negeri Tanpa Jam"

Oleh: Farida Susanty
(insignificantlyimportant.tumblr.com)

Tersebutlah seorang raja di sebuah kerajaan antah berantah. Raja itu adalah raja yang rupawan, lagi baik hatinya. Dia adalah raja baru yang baru diangkat setelah ayahandanya, raja terdahulu, mangkat. Namun, raja itu memiliki sebuah kekurangan: dia tidak pernah mau mengurus kerajaannya. Jawabannya selalu sama, “Nanti saja.”
Raja itu tidak pernah mau mengerjakan hal-hal yang berhubungan dengan kerajaan. Kelaparan melanda rakyat. Kurangnya fasilitas umum dan banyak urusan kerajaan yang tidak terselesaikan juga menjadi masalah yang tidak bisa diabaikan. Ratu berusaha membujuk Raja, tapi Raja itu tetap bersikeras, “Aku tidak mau mengerjakannya sekarang, nanti saja.” Padahal Raja tersebut adalah orang yang terkenal sangat pintar. Namun apapun yang harus dia lakukan, dia selalu bilang, “Nanti saja.”
Dalam hatinya, Raja itu hanya merasa takut. Dia ingin kesempurnaan. Dia takut kemampuannya untuk membangun kerajaan belum memadai. Dan dia takut hasil pembangunan kerajaannya nanti tidak sempurna. Jadi dia terus menunggu sampai dia merasa siap. Dia terus membaca dan membaca, berlatih, dan mencari tahu segala hal terlebih dahulu, hanya untuk mendorong dirinya agar merasa siap.
Tapi dia tidak pernah siap.
Waktu terus berlalu, namun Raja tetap menunda-nunda. “Nanti lagi saja,” katanya. Tapi keadaan semakin buruk. Banyak rakyat yang tidak bisa mendapat penghidupan yang layak, ekonomi carut marut, dan makanan sulit didapat. Rakyat tidak bisa menunggu lagi. Pada suatu malam, rakyat kerajaan itu melakukan kudeta terhadap kerajaan, meminta raja itu untuk mundur.
Tapi Raja itu akhirnya meminta rakyatnya untuk bersabar, setidaknya sehari lebih lama. Padahal Rakyat sudah mengamuk dan mendobrak masuk istana, mengancam membunuh Raja.
Saat disudutkan, dengan gemetar, Raja berkata pada rakyatnya, “Sungguh, satu hari lagi. Kalau satu hari itu aku tidak segera membangun kerajaan, aku bersedia dibunuh.”
Karena dijanjikan demikian, rakyat akhirnya menyetujui dan pulang ke rumah dengan bergumam-gumam marah, tidak sabar menunggu hari esok.
Ratu mendekati Raja, memegang bahu suaminya. “Ini mudah sekali. Kau hanya harus mulai membangun hal-hal kecil di kerajaan, misalnya membangun kembali aula kota yang rusak…” ujarnya.
Tapi melihat dari ekspresi si Raja, Ratu tahu bahwa Raja itu belum yakin. Raja itu masih mengerutkan dahinya dan berkata, “Aku tidak bisa, aku tidak siap.”
“Tapi kau telah berjanji pada rakyat untuk mulai bekerja,” ujar istrinya.
Raja itu merasa putus asa. Dia merasa belum bisa mengerjakan pekerjaannya, tapi rakyat telah siap membunuhnya kalau dia tidak mengerjakan.
Akhirnya dengan sempoyongan, Raja itu berjalan-jalan ke hutan untuk berpikir dan mencari cara untuk menghindar besok hari. Dia masih ingin menjadi Raja, tapi dia ingin membangun kerajaan yang sempurna.
“Kenapa aku harus selalu takut memulai apapun?” pikir Raja putus asa. Dia tidak ingat sejak kapan dia seperti ini. Tapi dia memang selalu memiliki kesulitan itu.
Hingga di sebuah tempat di dalam hutan, Raja itu melihat seorang pengemis yang sedang teronggok di sebelah sebuah pohon. Tadinya Raja itu hanya akan melewati si pengemis, tapi pengemis itu menghentikannya.
“Aku tahu kau punya masalah dengan waktumu,” katanya serak. “Kau merasa takut ketika siang menjadi malam, dan malam menjadi siang, karena kau belum melakukan apapun. Karena kau tidak bisa melakukan apapun.”
Raja itu mengangguk. “Apa yang harus kulakukan? Aku tidak yakin aku bisa menyelesaikan segalanya secara sempurna mulai besok. Andai saja esok tidak akan pernah ada…”
“Bisa,” bisik si pengemis.
Raja itu terbelalak. “Bagaimana caranya? Aku akan memberikan segalanya agar hari esok tidak pernah ada dan aku bisa mempersiapkan diri lebih matang lagi.”
“Kau tidak akan pernah merasa puas kan? Kau tidak akan pernah merasa siap.”
Raja itu tidak mampu menjawab, dan hanya mengatupkan bibirnya murka. “Hei pengemis, katakan padaku, bagaimana caranya agar hari esok tidak ada?”
Pengemis itu mendekati wajah Raja, berbisik dengan mulutnya yang beraroma tidak sedap, “Aku pernah menyelamatkan seorang penyihir dari kematian. Dia memberiku hadiah, yaitu sebuah jam yang berbahaya. Jam ini adalah satu-satunya jam yang bisa membuat segalanya tidak berubah. Dia akan membuat orang awet muda, dia akan membuat cinta abadi selamanya, dan waktu terhenti di satu momen, dan tidak akan pernah maju sedetikpun.”
Pengemis itu mengeluarkan sebuah jam kecil yang telah berdebu, dengan ukiran aneh di bagian luarnya yang terbuat dari emas. Raja itu mengangguk-angguk dan mencoba mengambil jam itu, ketika pengemis itu menepuk tangannya.
“Ini adalah jam yang berbahaya. Kamu akan tersesat di selamanya. Kamu akan punya waktu yang tak terbatas, dan itu lebih buruk dari tidak punya waktu sama sekali,” katanya. Raja itu berpikir. “Dan aku juga ingin mendapatkan seluruh hartamu sebagai bayarannya.”
Raja itu berpikir dan berpikir. Tanpa waktu, tidak akan ada yang mendorong-dorongnya untuk membuat sesuatu yang tidak sempurna. Setelah beberapa lama, akhirnya Raja itu berdehem. “Baiklah, aku setuju,” katanya.
Pengemis itu menyeringai. Setelah Raja diam-diam memberikan semua hartanya pada si pengemis, pengemis tersebut memberikan jamnya pada Raja.
“Berhentikanlah di jam yang kau inginkan,” kata si pengemis. Raja memutar jarum dan memberhentikannya di jam 5 sore, beberapa menit dari saat itu.
“Kau tidak harus melakukan ini, kau tahu, Raja? Seharusnya kau coba saja dulu. Ini tidak usah terjadi.”
Raja itu menggeleng. “Aku butuh waktu lebih. Aku harus mempersiapkan diri,” keluhnya.
Awalnya, setelah jam itu berhenti berputar, Raja sedikit bingung. Segalanya nampak tidak berubah.
“Hei, tidak ada yang terjadi.”
Pengemis itu menyeringai lagi. “Perubahan akan terjadi hanya kalau ada waktu. Kau meniadakan waktu. Tidak akan ada lagi perubahan di langit atau pada pohon-pohon.”
Raja mengangguk-angguk. Benar saja. Perubahan baru terjadi ketika 1 jam berlalu. Lalu 2 jam, 3 jam. Tidak ada perubahan sama sekali di langit, matahari, maupun tanda-tanda lain di alam.
“Sekarang aku akan bisa mempersiapkan diri dengan tenang. Aku punya banyak waktu,” kata Raja. Pengemis itu mengambil hartanya dan beranjak dari sana.
“Aku akan pergi ke tempat yang ada waktunya. Aku tidak akan mau tinggal di sini,” kata pengemis itu.
Raja itu mencibir dan kembali ke istananya.
Ketika ia kembali dan menceritakan yang baru saja dia lakukan pada istrinya, wanita itu hanya bisa terbelalak. “Apa yang kau lakukan? Kerajaan ini tidak akan pernah maju kalau waktu tidak berjalan! Kita akan selamanya seperti ini! Kita tidak akan mati, kita tidak akan tua, tidak akan ada perubahan! Kita terjebak di selamanya!” teriaknya panik.
Barulah saat itu Raja sadar kesalahan yang baru diperbuatnya. Benar saja, rakyat yang menunggu-nunggu esok hari tiba, harus kecewa karena hari esok tidak pernah tiba. Dan mereka selamanya terus menunggu, karena bahkan dalam selamanyapun, Raja tidak kunjung siap juga.
Jawabannya, dalam keputusasaannya, masih sama, “Nanti saja.”

3 komentar:

  1. kalau dibaca sekilas rasanya simpel, tapi makna ceritanya dalam sekali.

    BalasHapus
  2. Uhuk, curhat gitu aku Vin :)) #acutesyndromeofprocrastinating

    BalasHapus
  3. i like this!

    Dari awal udah ketauan siapa the real person yang diserang dalam cerita ini. :))

    BalasHapus

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!