Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Sabtu, 12 Februari 2011

Mati Gaya


oleh @Rohana_siti


Hari ini kita makan malam berdua dibawah lampu terang benderang dan diantara orang-orang yang kelaparan lainnya. Saya berharap kita yang sudah 1 tahun tidak bertemu, dipertemuan ini akan berjalan dengan menyenangkan dan tidak kaku. Namun sampai makanan yang sedang disantap hampir habis dia masih diam saja dan tidak mengeluarkan kata-kata humornya seperti dulu. Aku ingin membuka pembicaraan yang bisa mencairkan suasana, namun disetiap aku hendak mulai berbicara dia selalu menampakkan tampang ketidak tarikkan kepada apa yang hendak saya ceritakan,. Oh My God! Kenapa jadi seperti ini, dia sekarang
dihadapanku, tapi kenapa aku tidak bisa berkutik hanya untuk sekedar membuat dia berbicara sedikit lebih banyak. Sambil menunggu makanan dia habis (karena saya lapar sekali jadi makan saya cepat sekali kayak orang baru dengar adzan magrib pertanda buka puasa) aku melamun mengingat masa dulu ketika
kita masih berteman akrab dan hampir setiap hari bertemu. Suara motor berhenti di depan kontrakanku pertanda dia datang membuatku bersemangat melakukan aktivitas hari itu. Senang. Dibalik pintu aku senyam-senyum sendiri tiap kali tahu dia datang. Setiap hendak buka pintu aku menyiapkan wajahku agar tidak
kelihatan senang sekali dan biar terlihat biasa. Sebelum berangkat kita biasanya sarapan dulu diwarung. Entah kenapa dia yang selalu bayarin dan ngak pernah mau dibayarin balik, hanya sesekali. Padahal sama-sama mahasiswa kontrakan yang pengangguran, setahuku keluarganya juga tidak kaya amat. Jaga gengsi mungkin.
Dia juga sering buat aku tersenyum saat aku curhat. Hari-hari bersamanya selalu terasa menyenangkan. Ada saja yang dia bahas dan selalu ada saja tingkah dan perkataannya yang bisa bikin aku senyum-senyum sendiri. Hingga pada suatu saat dia lulus dan pergi. Terasa kehilangan sekali. Apalagi sekarang tidak ada yang jemput tiap pagi sehingga kemana-mana jalan dibawah teriknya matahari. Selain itu jadi ngak bisa nabung karena jarang dapat traktiran. Hehehehehehe sebenarnya ngak itu masalahnya. Tapi terasa sekali ada yang hilang. Ngak ada lagi yang menghibur aku dengan kebanyolan dan canda nya. Ngak ada lagi yang bisa buat aku senyum sendiri tiap kali terdengar suara motor berhenti didepan kontrakan.
Hampa.
Merasa bersalah karena tidak membalas senyumannya tiap pagi. Merasa bersalah karena sering pura-pura menganggap leluconnya tidak lucu. Pura-pura ngak senyum. Merasa bersalah karena ngak pernah berusaha membuat dia tersenyum kembali untuk sekedar membalas kebaikannya selama ini. Jika diberi waktu bertemu
dengan dia lagi aku berharap aku yang membuatnya tersenyum. Tapi sekarang. Dimeja makan ini. Dihadapan dia. Mengapa aku jadi seperti tak bisa berkutik begini..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!