Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Senin, 31 Januari 2011

Best of The Night 30 Januari 2011

Waktu yang ditunggu-tunggu! Pemenang cerita terbaik untuk sesi "Fans" adalah...


Dimensi dan Keengganannya oleh @yellohelle



Apa yang kita bisa pelajari dari tulisannya? Kenapa dia terpilih menjadi cerita terbaik di sesi ini yang nantinya akan dilombakan dalam vote menjadi Cerita Terbaik Mingguan yang akan dimuat di Herve Magazine?


1. Paragraf/bait pertama menarik. Menggunakan kalimat pembukan yang unik. Permainan kata-kata yang menggambarkan ketertarikan antar dua orang menyisakan rasa yang kuat dan misteri. Untuk kriteria ini, skor 4.

2. Twist. Dari awal kita sudah tahu bahwa tokoh utama ini menyukai seseorang, dan menyukai hal yan diucapkan orang tersebut, walau orang lain menyebutnya membosankan. Ketika diberitahu bahwa itu adalah seorang guru, tidak menjadi twist yang signifikan. Di sini, mungkin, kekurangan dari cerita ini. Skor 2.

3. Penggunakaan tanda baca. 100% bagian cerita menggunakan tanda baca yang benar. Skor 4.


4. Keunikan isi cerita. Cerita yang ditulis sangat unik. Gaya penceritaannya sangat halus namun memberikan kesan yang dalam pada setiap pembacanya. Seperti pada saat penulis menjabarkan perasaannya sang tokoh utama pada orang yang dipujanya, sangat dalam rasanya seperti kita ikut terhanyut juga dalam emosi si tokoh. Skor 4.


5. Relevansi tema. Isinya sesuai dengan tema yang diberikan. Perlahan tapi pasti, karya ini menggambarkan setiap emosi fans kepada idolanya. Seperti yang kita lihat pada kalimat berikut :
"Atau hanya asumsiku saja, karena pada individu yang pikiranku proyeksikan sepanjang waktu (iya, kamu) hanya ada obsesi yang termanifesto. Kamu adalah candu." Skor 4.


6. Pemilihan kata kaya dan terasa sekali permainan katanya. Untuk ini, skor 4


Begitulah. Cerita ini memiliki cara penggambaran yang sangat kuat, yang bisa memaparkan emosi seorang fans terhadap idolanya, yang bahkan idolanya tidak melulu penyanyi, tapi seorang guru. Tidak ada twist yang signifikan, tapi cerita tetap enak dibaca dan bermakna. Skor lainnya yang sempurna membuatnya cerita terbaik sesi kemarin.


Selamat, mari kita belajar bersama, terus berkarya!

Dimensi dan Keengganannya


By: ellena ekarahendy | @yellohelle | the-possibellety.blogspot.com


Sejak kapan kita memilih untuk peduli pada bibir-bibir yang bergerak mencibir tiada henti?  Juga pada kerlingan mata yang dalam ketenangannya mengintimidasi dengan liar. Pada aku. Mungkin juga pada kamu?
Ada imun yang terbentuk dari kerinduan yang terbangun sepanjang tahun ini. Aku memilih untuk hanya menatap ke depan, pada visi-visi yang terbentuk dari kecintaan yang tereksagerasi.
Menyebut aku tidak tahu malu, padahal aku hanya berdiri pada apa yang aku percaya. Padahal aku hanya mengejar cita yang kupercaya bisa menjadi gita. Mereka pikir mereka siapa?


Mungkin kita sama-sama tahu bahwa jauh di dalam keasingan pikiran dan perasaan kita masing-masing, kita menginginkan waktu lebih banyak bagi kata-kata kita untuk bersentuhan. Atau hanya asumsiku saja, karena pada individu yang pikiranku proyeksikan sepanjang waktu (iya, kamu) hanya ada obsesi yang termanifesto. Kamu adalah candu.

Lama aku berdebat dengan pikiranku sendiri, tentang apa yang rasional dan irasional. Tentang posibilitas antara aku dan kamu. Tapi selalu aku berakhir pada penglihatan bahwa aku dan kamu tetap kemustahilan. Biarkan saja demikian. Pun obsesikulah yang turut menjelma jadi udara yang menafasi hari esokku. Kamu adalah candu. Dan kamu menafasiku.
Lama juga super-ego-ku berkelahi dengan ego maupun id-ku sendiri di sela kebisingan di dalam kepala. Aku berbicara (pada diriku) tentang kebebasan manusia yang bisa kujadikan justifikasi untuk menghadirkan eksistensiku di dalam dimensi hidupmu. Namun ketakutan selalu mentransformasinya jadi sekedar petik kata “Hai.”, lalu kita menjalari detik-detik sederhana dengan senyuman yang berbalasan, kemudian dengan lambaian tangan yang sebenarnya menyebalkan.

Dalam diam aku ingin menyusuri kehidupanmu yang tak terjamah. Muncul pertanyaan mengapa kehidupanmu dan kehidupanku tidak bisa saing terjamah. Kuterka sendiri saja, mungkin karena kita hadir dalam dimensi yang berbeda? Ah. Astaga! Sungguh menyebalkan sekali melihat kita bertumbuh dalam masa yang berbeda lalu terjebak dalam dimensi waktu yang sama tapi tidak bisa kita kejar. Tidak bisa aku kejar. Kehidupanmu.

Bahkan pada deretan kata-katamu yang mereka sebut membosankan, aku jatuh cinta. Dari situ aku tahu damba yang tak terbendung untuk bisa menyusuri kerumitanmu yang manis. Tapi kamu tidak tergapai.
Jadi ketika akhirnya sebuah kebetulan kosmis mempertemukan kita lagi (meski kadang di waktu yang  salah), aku akan lebih banyak menghabiskan waktu untuk berdiam: menapaki bola matamu yang kadang kulihat sebagai kelelahan atas pertanyaan terhadap dunia, menimang-nimang dan mengecap habis bilah-bilah kata sederhana yang kamu lantunkan, mengulangi senyumanmu yang dalam kecanggungan tetap saling berbalasan di dalam kepalaku sendiri, atau bahkan hanya sekedar mendengarkan derap-derap tapak kakimu selagi berjalan beriringan denganku dalam menit-menit yang langka ini.
Kemudian kita sama-sama terdiam. Kikuk. Dan lucu. Kepalaku bising menyorak-nyorakkan namamu. Kadang kutakut euforia dari dalam pikiranku bisa sampai di telingamu, karena aku ingin menyanduimu hanya dalam ketenangan dan kerahasiaan meski ketidakpedulian atas apa yang mereka lontarkan tetap aku sampaikan kepadamu.

“Silahkan masuk,” ujarmu tiba-tiba. Menghancurkan imajinasiku saja.
Aku melempar senyum. Satu hal yang kuharap bisa kamu bayangkan ketika butuh penyangga dalam kejenuhan dan kesendirian.
“Tidak, Bapak saja duluan.”
“Tidak apa-apa. Kamu saja duluan, Liz.”
Lagi, aku tersenyum, dan bergetar. Menyebut namaku saja ada kemerduan yang selalu membuat rindu.
Aku melihat kamu tersenyum lalu melambaikan tangan berkata “Silahkan”. Aku sudah hampir memulai imajinasiku lagi tentang kamu (dan bersama aku tentunya) ketika tanganmu memutar engsel pintu kelas lalu membiarkanku melangkah masuk. Kamu mengikutiku dari belakang dengan buku-buku tebal di tangan kirimu, dan tas kanan merogoh tas selempangmu, mencari-cari ID Card untuk absensi.
Kita baru berjalan tiga-empat langkah melewati papan tulis. Lima puluh delapan pasang mata dengan sigap melempar hujam pada kita. Sebagian masih membawa tanda tanya bersama ucap “Ada apa sebenarnya di antara kalian?”

Aku hanya tersenyum (lagi dan lagi) ketika menarik bangku di deretan paling depan.  Kamu berjalan ke tengah, dengan setiap detail gerakan yang menambah intensitas obsesiku atas pribadimu. “Good morning, Class.
Lalu kamu berbicara tentang hubungan seni pada manusia di masa lampau dengan seni pada abad ini. Mereka yang tadi mencibir kita mulai menguap bosan. Sebagian meringkuk dan terlelap dalam tidur. Tapi mataku tidak bisa tidak melekat pada tiap inci dari dirimu. Pikiranku memulai lagi imajinasi tentangmu, sembari terus-terusan menendang super-egoku yang terus berteriak. Usiamu mendekati kepala empat, dan aku sembilan belas. Tapi pikiranku terus berkelana, pada adegan-adegan manis aku dan kamu, yang menerjang kemustahilan dari dimensi kita yang berbeda serta menepak balik keengganannya berdialog dengan norma-norma yang kita pertahankan sembari pertanyakan.

Pertama dan Utama

oleh: Tenni Purwanti (@rosepr1ncess)
www.rosepr1ncess.blogspot.com





“Seribu sembilan ratus delapan puluh lima followers? Mendadak seleb kamu!” Dara, sabahatku, berkaca-kaca di depan laptopku. Entah pujian atau ejekan, kata-katanya begitu dalam. “Kok bisa sih?” ia melontarkan pertanyaan yang sesungguhnya juga ingin ku tanyakan kepada diriku. Aku hanya mengangkat bahu, menandakan tak sanggup menjawab pertanyaannya.
“Selama satu bulan terakhir sejak memenangkan lomba menulis online, setiap kali mengecek e-mail, selalu ada saja e-mail dari twitter dengan kata-kata : @blablabla is now following you on twitter.” aku mengungkapkan padanya apa yang ku alami.
“Wah, hebat. Mungkin mereka penasaran sama kamu karena kamu memenangkan lomba menulis itu, jadi ya mereka semua follow twitter kamu,”
“Mungkin,”
“Kok kamu seperti yang ga senang gitu? Kalau aku ada di posisi kamu, pasti aku bahagia banget deh. Mendadak seleb gitu. Seperti jargonnya Miss Indonesia : Semua Mata Tertuju Padamu. Ya ampun, aku pasti bangga. Baiklah, sekarang juga aku bangga dan bahagia, ternyata sahabatku yang merasakannya. Lalu mengapa sahabatku sendiri justru tidak bahagia?”
“Entahlah,”
Aku membiarkan sahabatku antusias di depan laptopku. Mengutak-atik akunku, menjerit setiap membaca mention-mention lama yang masuk ke akunku hingga hari ini, membaca tweet-tweet dariku yang banyak di-retweet orang lain. Dia masih terkagum-kagum dengan kenyataan yang ada, sedang aku, masih bingung dengan apa yang aku rasa. Apakah ini yang benar-benar aku cari? Apakah ini yang benar-benar membuatku bahagia?




***

Satu tahun lalu,
“Aku yakin kamu bisa jadi penulis best seller. Penerbitnya aja yang bego, masa karya sebagus ini ditolak?” kekasihku Ferdy mendadak emosi saat melihatku kembali ke mobilnya dengan naskah novel yang ditolak oleh penerbit. Sudah empat bulan naskah itu tak ada kabar, maka kami memutuskan untuk kembali menemui penerbit, menanyakan langsung bagaimana keputusan penerbit atas draft novel tersebut.
“Kita coba cari penerbit lain saja. Mungkin memang karyaku tidak sesuai dengan visi-misi mereka,” aku mencoba lapang dada.
Kekasihku menyalakan mesin mobilnya, lalu mobilnya melaju meninggalkan kantor penerbit ternama yang ku harapkan mampu membawa karyaku sampai ke pembaca di seluruh Indonesia. Harapanku kandas, kekasihku kecewa.
Untunglah sejak hari itu ia masih saja menemaniku. Ia masih saja mendukung karya-karyaku. Ia tak lelah menemaniku bertemu penerbit-penerbit lain.
Hingga saat ke-lima kalinya karyaku ditolak penerbit, aku justru mendapat pekerjaan di luar negeri. Aku meninggalkannya dengan berjanji akan terus menulis dan terus mengirimkan tulisanku via e-mail padanya, agar ia bisa terus meng-apresiasi karyaku. Aku bilang aku akan berhenti mengajukan karyaku untuk diterbitkan oleh penerbit mainstream di Indonesia. Aku hanya ingin terus menulis walaupun tak akan pernah terbit.
Kekasihku tetap mendukung meski ia berharap aku tetap berada di Indonesia dan terus berjuang bersamanya untuk menembus penerbit mainstream di Indonesia. Dia selalu yakin aku bisa. Dia selalu percaya suatu saat aku akan bisa menjadi penulis ternama. Aku percaya dukungannya bukan hanya karena aku kekasihnya, tapi karena dia tahu aku tidak serius menjalani ini semua.
Beberapa bulan berpisah jarak, masalah demi masalah muncul dan akhirnya kami memutuskan untuk berpisah.





***
“Ada masalah apa, Luna? Sejak memenangkan lomba menulis itu, sampai hari ini, kamu tidak pernah terlihat bahagia, selalu gelisah, seperti terus memikirkan sesuatu. Ada apa?” sahabatku, Dara, mulai menanyakan kebingunganku.
“Kalau boleh jujur, aku tidak pernah ikut lomba itu,”
“Apa?” sahabatku terkejut.
“Iya, aku tidak pernah ikut lomba itu?”
“Tapi, tapi …,” sekarang sahabatku yang bingung.
“Cerpen itu memang karyaku. Tapi aku tidak pernah mengikutsertakan cerpen itu untuk lomba menulis online yang sekarang melambungkan namaku,”
“Makanya aku mau nanya, apa kamu yang mengikutsertakan karyaku?”
“Bukan. Ya ampun Luna, aku saja baru baca karyamu setelah menang,”
Aku menghela napas berat. Cerpen itu belum pernah aku publikasikan, bahkan di blog pribadiku. Aku baru mengirimkannya kepada satu orang, dan itu : mantan pacarku.
“Apa mungkin dia?” aku bergumam sendiri.
“Dia? Dia siapa?”
Aku langsung menyalakan laptop, mengaktifkan Yahoo Messenger :
          :    Apakah ini semua ‘ulah’mu? Aku mendadak terkenal sekarang.
     :    Akhirnya kamu sadar. Apa kabar?
         :   Apa maksudnya semua ini?
      :   Aku hanya ingin membantumu dikenal dunia
         :   Untuk apa masih peduli dengan kehidupanku?
   is offline.

Aku mengepalkan tangan tanda geram. Mengapa dia pergi sebelum menjelaskan semuanya?
“Ada apa sih, Luna?”

***

Keesokan harinya aku menerima e-mail dari Ferdy :
Dear Luna,
Maaf atas kelancanganku mengirimkan cerpen yang kau kirimkan padaku ke panitia lomba menulis online itu. Tak ada maksud apa-apa selain ingin membantumu maju. Aku adalah fans pertamamu sejak aku tahu kekasihku dulu bisa menulis. Kau sadari atau tidak, akulah yang paling setia membaca, memuji, bahkan kadang tak segan mengkritisi karya-karyamu. Aku juga yang paling sedih ketika melihatmu ditolak penerbit. Aku tahu kau akan bisa menggapai impian yang selalu kau sampaikan padaku, hanya saja kau harus berusaha lebih keras dan Tuhan sedang mencari waktu yang tepat untuk membuatmu dikenal banyak orang.
Aku rasa ini jalan Tuhan juga. Tuhan menggerakkan aku untuk mengirimkan karyamu ke panitia lomba itu dan akhirnya menang. Aku melakukannya karena menghargai karyamu yang memang sudah seharusnya mendapat tempat layak. Tak ada hubungannya dengan hubungan percintaan kita. Aku memang pernah saying padamu tapi jika memang harus berpisah, mungkin itu yang terbaik. Aku hanya ingin tetap menjadi fans pertama dan utama di hatimu. Fans yang selalu mendukung karya-karyamu. Maaf jika caraku salah.
Aku menangis haru membaca e-mail itu. Tak bisa lagi berjata-kata.







Yang Kau Butuhkan Hanyalah Fans

Oleh: @reynaldosiahaan



Berbicara mengenai dunia hiburan, orang-orang pasti akan sangat senang untuk menyinggung kehidupan seorang superstar. Seorang superstar tentunya mengalami proses yang panjang dan sulit menuju puncaknya. Namun, dibalik kehidupan seorang superstar pastinya selalu ada orang-orang yang mendukung proses itu. Keluarga, pasti. Orang-orang terdekat, tentunya. Yang paling penting adalah para penggemar atau yang kerap disapa dengan sebutan Fans. Sama halnya dengan ungkapan, di balik kesuksesan seorang pria  selalu ada wanita yang bertangan dingin. Demikian pula, di balik kesuksesan seorang superstar selalu ada banyak fans yang fanatis.

Kunci sukses di dunia hiburan pada hakikatnya adalah sederhana, mampu mempesona dan memiliki fans. Tidak ada superstar tanpa fans. Namun, posisi superstar danfans sering atau bahkan selalu memiliki gap yang menjadikan superstar itu seperti sosok terpuja (di atas) dan sosok pemuja (di bawah). Hal ini seakan memberikan adanya sebuah istilah yang dinamakan kasta antara superstar dan fans. Terkadang kehadiran seorang fans di dekat superstar seperti dijadikan pengganggu. Jika kita melihat kalimat pertama paragraf ini lagi maka kita akan menemukan bahwa seharusnya tidak ada muncul yang dinamakan kasta.

Apa yang menjadikanmu seorang fans? Adanya yang diidolakan. Pada dasarnya ini hanya masalah perbedaan nasib dimana orang itu menjadi yang teridolakan sementara kita menjadi yang mengidolakan. Menjadi fans dan menjadi superstar adalah keadaan yang saling melengkapi. Sangat dibutuhkan kerjasama antara keduanya untuk dapat menjadikan sebuah dunia hiburan.

Fans adalah bagian terpenting dalam perjalanan karir seorang superstar. Oleh karena itu menurut saya pribadi , kedekatan antara fans dan superstar seharusnya menjadi salah satu bahan pertimbangan utama oleh superstar itu sendiri. Bayangkan saja jika setiap minggunya seorang superstar meluangkan waktunya sejam atau dua jam untuk mengadakan kumpul bersama kelompok penggemarnya. Hal tersebut akan membuat para penggemar tidak hanya tersanjung tetapi merasa dekat dengan idolanya. Dekat berarti tidak ada kasta di antara mereka. Sayangnya saya tidak terlalu melihat hal seperti ini di dunia hiburan saat ini. Fans dianggap seakan-akan menjadi efek dari proses menjadi superstar bukan sebagai bagian terpenting dari proses itu sendiri.

Tulisan ini hanyalah sebuah buah pikiran dan opini dari seorang biasa yang baru belajar menjadi fans. :p

Rasa Terindah

Oleh: Saidah Irham


Kamu tidak akan mengerti, jika kamu tidak ada di dalamnya, tidak terlibat di dalamnya, atau merasakan getarnya..
Ini adalah rasa dimana cinta, rindu, sayang menjadi satu dalam satu balutan kisah.
Ini adalah kisah perjalanan mencari jawaban dari semua tanya.
Ini adalah tanya dari sekelumit rasa yang menyerang di dada.
Jadi di mana letak jawabnya? 
Coba rasakan yang aku rasa. Karena inilah kisahku.

Jakarta, 28 Februari 2004

Pagi ini, aku mendapat kabar Siti Nurhaliza akan melalukan rekaman untuk salah satu program televise swasta. Hadiah yang luar biasa yang Sang Maha Pemberi beri di hari ulang tahun ku. Aku bisa menghabiskan hari ini dengan Siti ada dalam kisah itu.

Berita buruknya. Aku tidak memiliki undangan untuk program televisi tersebut. Sedih rasanya. Tapi aku tidak patah semangat. Bersama dengan teman-teman komunitas penggemar Siti Nurhaliza, aku memutuskan berjudi dengan nasib. Kami akan datang ke acara itu, tanpa undangan. Nekat.

Dengan was-was aku melewati pintu gerbang stasiun televisi tersebut. Security yang ramah mempersilahkan aku masuk. Lega rasanya. Tapi perasaan ku kembali campur aduk saat mencoba memasuki Studio 1. Keamanan jauh lebih ketat. Tetapi, aku kembali berhasil masuk. Rasanya luar biasa sekali. Teman-teman ku juga bisa masuk ke studio. Senang rasanya bisa menikmati malam ini bersama.

Kami lalu memilih duduk manis, menunggu acara dimulai.

Siti tampil sempurna malam ini. Cantik dan mempesona. Rasa rindu ku untuk bertemu dengannya terobati.

Acara berakhir. Aku dan teman-temanku seperti semut yang mengincar gula. Kami langsung menyerbu panggung utama untuk mendapatkan kesempatan meminta tanda-tangannya, atau sekedar bersalaman dengannya. Sayang, aku berdiri disisi yang salah, dan aku kehilangan kesempatan. Sedih rasanya.

Jam sudah menunjukkan angka sebelas, teman-teman ku memilih untuk pulang. Sementara aku kukuh, tidak ingin pulang sebelum melihat Siti keluar. Untung seorang teman mau menemani, karena rumahnya yang searah denganku.

Sekitar pukul 12 kurang, Siti keluar dengan kawalan yang ketat. Spontan aku berteriak. ”Kak Siti? Mau photo bareng!”. ”Siti mau istirahat!” Balasan dari salah satu security itu membuat ku sedih. Tapi tangan seseorang meraihku. Menarikku kedalam kerumunan itu, berdiri di samping Siti Nurhaliza. Dimas namanya, bodygurad yang selalu menemani Siti selama ini.

Hanya bisa diam, merangkul perlahan tubuh Siti. Dia membalas rangkulanku. Aku speechless.

“Kak Siti, terima kasih. Hari ini saya ulang tahun.” Terbata, aku mencoba berbicara.
”Really?” Dan nyanyian Happy Birthday mengalir lembut dari bibirnya. Rasanya ingin menangis.

Tuhan, terima kasih. Hadiah ini sungguh luar biasa bagiku. Dan air mata bahagia itu akhirnya keluar, setelah dia berlalu.

Aku Bukan Secret Admirer

Oleh: @PetronellaLau

petronela.putri@live.com

Sebuah SMA swasta di Jakarta, akhir Desember 2005

Gadis, pagi tadi aku masih saja memperhatikanmu. Kamu berlari masuk gerbang sekolah dengan untaian senyuman khas – mu yang manis. Senyum yang selalu aku sukai sepanjang aku mengagumi dirimu.
Semuanya tampak baik – baik saja hingga jam istirahat pertama.. Tapi saat pelajaran ke tujuh aku melihatmu keluar kelas dengan wajah pucat.. Ada apa, gadis? Apa kau sakit? Aku ingin sekali menghampirimu tadi, tapi sungkan jika harus bertemu langsung… apalagi berhadapan dengan teman – temanmu…


Aku (Bukan) Secret Admirer – mu..

                “Ciee, Ve dapat surat lagi nihh..” Marsha tersenyum simpul saat Ve melipat surat itu dan memasukkannya segera ke dalam tas.
                “Hmm.. Biarin aja, Sha.. Gue nggak kenal juga orangnya. Selama ini dia terus ngirim surat, tapi nggak pernah keliatan wujudnya..” Ve cuek dengan godaan Marsha barusan. Gadis manis bermata cokelat itu bangkit berdiri dari kursi taman lalu berjalan ke arah gerbang sekolah.
                “Ve, tungguin!..” Marsha berusaha menyusul Ve lalu berjalan disamping sahabat karibnya itu, “Tapi siapa tau aja kan dia orangnya baik? Buktinya, dia perhatian banget sama loe.”
                “Iyaa Marsha, tapi kalo orangnya gak jelas gitu siapa yang nggak ngeri coba? Bagus kalo dia anak sekolahan ini juga, lha kalo ternyata dia anak luar? Merinding gue.” Ve berujar dengan tampang parno.
                “Coba aja bales suratnya, minta ketemuan gitu?” Marsha menjentikkan jarinya.
                Ve menggeleng, “Sha, mau kirim ke mana balasannya? Masa gue diemin di meja sendiri? Ntar bukannya dia yang baca, malah di colong sama satpam sekolah.”
                “Iya juga sih. Kan nggak ada alamatnya..” Marsha jadi bingung sendiri.
***
Mei 2007..
                “Lulus kan, Sha???! GUE LULUSS!!” Ve memeluk Marsha saat temannya itu baru saja memasuki lorong sekolah.
                “Lulus dong! Gue udah cek tadi malem, ini ke sekolah cuma mau mastiin aja!” Marsha memasang senyuman manisnya, “Akhirnyaaaa.. selesai juga perjuangan masa SMA gueee!”
                Mereka lalu tertawa bersama. Ve kemudian mengajak Marsha ke kantin untuk bergabung dengan anak – anak yang lain, tapi..
                “Kak, ada surat nih. Titipan dari anak kelas tiga juga.” Seorang siswi kelas sebelas datang menghampiri mereka dan menyodorkan sebuah surat bersampul cokelat muda pada Ve.
                “Siapa dek? Siapa yang ngirim? Orangnya mana??” Marsha histeris sendiri. Sudah lama ia ingin tahu siapa ‘penggemar rahasia’ sahabatnya itu. Masalahnya cowok itu bahkan tahu segala kegiatan Ve dari awal ke sekolah, pulang sekolah, les, hingga kegiatan sorenya. Itu saja sudah membuktikan bahwa sang penggemar rahasia benar – benar memuja sosok Ve.
                “Wah, saya nggak kenal kak. Tapi tadi katanya, kasih aja suratnya ke tangan Kak Vena langsung, soalnya Kak Vena udah biasa nerima surat dia.” Siswi tadi nyengir lalu buru – buru kabur, “Maaf kak, saya masih ada pelajaran di kelas.”
                “Oh iya, makasih ya dek.” Ve tersenyum sesaat setelah menerima surat itu.
                “Aduhhh, susah bener sih nyari identitas penggemar rahasia loe itu.” Marsha berkomentar sambil mengambil tempat duduk di samping Ve.
                Ve cuma mengangkat bahu, “Gitu deh. Makanya, gue nggak pernah niat nyari tahu tentang dia. Mungkin dia lebih suka merhatiin gue diam – diam. Jadi, ya sudahlah…”
                “Bondan Prakoso banget loe, neng..” Marsha tergelak, “Buruan buka suratnya, kok jadi gue yang penasaran sih. Hehe..!”
                Ve menatap sepucuk surat di tangannya, sepintas ia tampak ragu.. Tapi akhirnya surat itu dibuka..

Gadis,
Aku senang kita semua bisa lulus dari sekolah ini. Akhirnya kita akan memasuki dunia baru yang disebut kuliah. Tapi aku juga kecewa, karena itu akan mengurangi waktuku. Waktu untuk melihatmu dengan senyuman manis dan bola mata bidadarimu itu.

Gadis,
Andai saja kau tahu.. Aku sangat berat berpisah dengan semua kebiasaanku menatapmu masuk di gerbang sekolah, melihatmu bermain volley di lapangan olahraga, bahkan memperhatikanmu ketika kau sedang makan bersama temanmu di kantin.

Gadis,
Mungkin kedengarannya aku seperti penguntit.. Tapi aku sama sekali tidak bermaksud begitu. Tolong jangan takut dan jangan berhenti membaca suratku J

Gadis,
Aku ucapkan selamat atas kelulusanmu. Aku berharap surat berikutnya juga akan sampai di tanganmu segera, dank au akan membacanya dengan senyum penuh rasa penasaran, seperti biasanya.

Lelaki Mencintaimu, tapi bukan secret admirer – mu..

                “Idih, romantis benerrrr…” Marsha menyikut lengan Ve, “Berarti dia seangkatan sama kita. Begonya lagi, kita nggak bisa nyari tahu siapa dia.. padahal anak kelas tiga kan dikit.. “
                “Nanti lama – lama juga ketahuan kok.” Ujar Ve datar sembari memasukkan surat itu ke dalam tasnya, “Yuk!” Ia lalu menarik Marsha keluar dari kantin.
                “Eh, mau ke manaa??”
                “Ke cafĂ© aja, gue traktir!” Ve memamerkan senyuman khas – nya. Senyuman yang selalu di cintai oleh sang penulis surat misterius itu..
***
Sebuah Universitas Negeri di Jakarta, Oktober 2007
                “Udah selesai Ve kuliah lo hari ini?” Marsha menghampiri Vena yang baru saja memasuki kantin Fakultas Hukum.
                “Udah nih. Jadi mau ke toko buku?” Ve menyeruput es teh manis di hadapan Marsha, “Haus.” lirihnya.
                “Jadi dong. Mau beli buku apa loe?” Marsha membolak balik catatan Ve. Baru halaman kelima, sepucuk surat jatuh tepat di depan Marsha. Surat yang kali ini bersampul putih bersih.
                “Apaan tuh?” Ve melirik Marsha yang memandangi surat itu dengan wajah tak percaya.
                “Ve!! Liat nih, jangan – jangan dia lagi. Kok sekarang suratnya bisa ada dalam buku elo??” Marsha seperti biasa, tetap histeris sendiri.
                Ve merebut surat beramplop putih itu dari tangan Marsha, “Hm, kayaknya getol banget nih orang. Mari kita baca..”

Dear Gadisku,
Bagaimana suasana pertamamu kuliah di Fakultas Hukum? Aku mengira kau akan memilih jurusan ekonomi sesuai dengan bakatmu yang memang pintar akuntansi, tapi ternyata dugaanku salah J
Ah, tak apa… Aku senang bisa melihatmu lagi di kampus yang sama.. Walau tidak pada fakultas yang sama. Fakultasku tidak jauh dari gedung Hukum, jadi aku bisa memperhatikanmu seperti dulu lagi.
Rasanya ingin sekali bercerita banyak padamu, gadis.. Tapi kali ini tidak bisa.. Tugas sebagai mahasiswa baru benar – benar menyibukkanku.. Mungkin di surat berikutnya aku akan banyak bercerita padamu.

Tetap tersenyum, gadisku.. Aku menanti itu tiap pagi J

(bukan secret admirer – mu..)

                “Ternyata nggak nyerah juga yak. Dan dia ada deket sini!” Marsha berkomentar, “Fakultas deket sini apa ya? Mau gue cariin infonya?”
                Ve menimbang – nimbang, “Boleh deh.. Cariin aja. Siapa tahu ada yang kenal dia. Haha..”
                Marsha mengedipkan matanya, “Sipp! Ntar gue tanyain temen – temen cowok gue yang anak tehnik.” Sahutnya bersemangat.
***

6 Tahun kemudian, Sebuah perusahaan terkemuka Ibukota…
                Ve meraih ponselnya yang tergeletak manis di atas meja, lalu memencet tut’s dan menyambungkannya ke nomer Marsha. Ia menatap surat di atas meja kerjanya dengan wajah penasaran.
                “Ada apaan, say? Gue lagi ngaudit nihhh..” Marsha menyahut tanpa basa – basi dari seberang sana.
                “Sha, suratnya datang lagi!” Ve menggigit bibir, “Mau gue bacain sekalian?” usulnya dengan nada usil.
                “Hey, tobat jeung. Mending ntar istirahat makan siang aja deh.. Takutnya ini bos gue ngamuk. Udah dulu yah ne’Byeee..” Empat tahun kuliah ternyata mampu mengubah Marsha yang heboh menjadi Marsha yang lebih tenang.
                Ve mengangkat bahu perlahan, lalu kembali meletakkan ponselnya di atas meja.. Tangannya menimbang – nimbang sebuah kertas putih yang di atasnya tersusun kalimat yang sangat rapi.

Gadis,
Bagaimana kabarmu hari ini?
Apa pekerjaanmu baik – baik saja? J
Aku kemarin melihatmu saat jam istirahat makan siang. Kau sedang asik bercengkrama dengan sahabat karibmu sedari SMA. Marsha kalau tidak salah.. Ya, itu namanya J
Mungkin kau penasaran dengan surat – suratku selama ini. Mungkin juga kau sempat berfikir aku menerormu dengan berbagai kalimat di atas kertas selama bertahun – tahun. Tapi percayalah, tidak sama sekali! Aku ini bukan pengagum rahasia atau secret admirer – mu. Aku hanya seorang lelaki yang mampu mencintaimu dari kejauhan.. Tanpa pendekatan, tanpa rayuan – rayuan, tanpa kata. Aku mencintaimu hanya dengan rasa..

Gadis,
Masih boleh kan aku memanggilmu seperti itu?
Walau aku tahu beberapa bulan yang lalu kau baru saja melahirkan putrimu yang pertama. Ya, dia memang cantik sekali. Mirip dengan ibunya. J
Tapi itu tidak akan memudarkan aku dan rasaku. Aku mencintaimu bukan karena kau cantik, bukan karena kau anak yang pintar dan popular semasa SMA, bukan karena IP – mu yang tinggi di kampus, bukan karena apa – apa..
Aku mencintaimu karena kau adalah kau, gadis.
Aku mencintamu sesederhana itu.
Selalu J

Sekali lagi, Aku bukan Secret Admirer – mu.

Ve tertegun membaca surat kali ini. Isinya benar – benar dalam seolah sang penulis surat itu memahami isi fikirannya yang dipendam selama bertahun – tahun.
Ia lalu berusaha konsentrasi dan menghapus ingatan itu dari otaknya. Akhirnya Ve meraih tas hitamnya dan memasuki sebuah ruangan bertuliskan “General Manager”.
“Saya izin keluar sebentar. Ada keperluan.” Ujarnya mengarang alasan. Sebenarnya Ve hanya butuh sedikit refreshing dan berharap bisa cepat keluar kantor hari ini.
“Baik, silahkan. Jangan lupa makan siang.” Pemuda yang usianya tidak jauh dari Ve itu menyahut sambil mengangguk.
“Terima kasih.” Ve berbalik dan keluar dari ruangan.
Tanpa ia ketahui, si pemuda yang tak lain adalah sang GM itu kemudian menatap selembar foto mungil di tangannya. Foto Ve semasa SMA. Ia lalu menyelipkan kembali foto itu ke dompetnya dan mulai menulis surat yang baru. Surat yang akan mendarat di meja kerja Ve keesokan paginya.
***

Hanya Untukku


oleh: Gisha Prathita (@geeshaa)
kamukayakuya.tumblr.com

“Suaramu merdu sekali, Indiana.” Kamu memujiku saat aku baru saja beres gladi resik untuk pertunjukkan Tribute to Enya nanti malam. Aku tersenyum, kamu selalu saja berkata bahwa suaraku seperti suara malaikat—jadi music New Age sangat cocok buat kunyanyikan, menurutmu.
“Kamu selalu memujiku, Raga, jangan buat aku terbang terlalu tinggi, aku ini hanya amatiran.” Tentu saja, aku hanya seorang murid dari tempat les menyanyi yang yah—memang cukup ternama sih, tapi aku bukan seorang murid berprestasi yang menjuarai lomba nyanyi di sana sini seperti rekanku yang lainnya.
“Amatiran atau tidak, menurutku itu urusan yang lain. Suaramu benar-benar membuatku merinding, dan seperti itu saja sudah cukup.” Kamu tersenyum. Raga, kamulah satu-satunya fans-ku yang kutahu. Kamu selalu saja begitu, memujiku secara gamblang.
“Ini pertunjukkan pertamaku, Ga. Doakan ya. Akhirnya aku dianggap layak untuk menyanyi di sebuah konser seperti ini, Ga. Lagunya May It Be, pula. Ini benar-benar kebanggaan buatku!” aku benar-benar girang saat itu.
Kamu mengangguk-angguk mengerti. “Ya, itu berarti suaramu akan banyak didengar oleh orang-orang yang datang menyaksikan konser ini kan? Kamu kelihatan sangat gembira sekali.” Kamu lalu berjalan mendekatiku yang kini sudah siap dengan kostum yang akan kukenakan saat konser nanti, sebuah gaun berwarna merah marun lengkap dengan sarung tangan sesikunya, hanya kurang make up dan tatanan rambut resmi saja. “Kamu yakin dengan konser ini?”
“Maksud kamu apa? Gak yakin? Jangan bercanda, Raga. Aku menginginkan untuk menyanyi di depan ratusan—bahkan ribuan orang. Itu mimpi para penyanyi!” aku merentangkan tanganku dan berputar sambil melihat ke sekeliling podium. Aku melihat para pemain musik sudah mulai keluar dari ruangan (calon) pertunjukan ini, sepertinya mereka lelah berlatih dan akan istirahat di ruang sebelah. Kini tinggal ada aku, dan kamu, Raga, di ruangan sebesar ini.
“Impian para penyanyi?” Kamu, Sang Pianis menggeleng-gelengkan kepalanya. “Menurutku itu bukan impian, Na. itu komersil. Kata-kata impian para penyanyi itu hanya ulah produser untuk membuat kalian mau dibayar untuk jadi penyanyi besar.”
“Kamu sendiri? Bukankah kamu juga punya mimpi untuk memperdengarkan alunan piano-mu kepada semua penggemarmu? Raga Salendro, Sang Pianis yang dijuluki Maxim Indonesia..” tanyaku heran. Aku mengernyitkan keningku.
“Itu bukan impian, Na. itu pekerjaanku, aku cari uang dari sini, dari caraku menekan-nekan tuts piano.” Jawabmu. “kalau kamu mau tahu impianku…” Kamu melihat ke arahku, kini kamu malah mengamit tanganku dengan lembut, lalu melepaskan sarung tangan dari sela-sela jariku. “aku hanya ingin memainkan piano untuk mengiringi nyanyian seseorang yang paling kukagumi, kucintai, dan selalu membuatku terpana dengan suaranya.” Kamu lalu mencium punggung tanganku, kemudian tersenyum ke arahku dengan penuh rasa hormat.
Aku tertawa canggung. Apa itu maksudnya aku? Hal ini membuatku salah tingkah. “Orang itu pasti beruntung sekali ya,” gumamku tanpa sadar.
Kamu tertawa. “Dan saat itu ia hanya bernyanyi untukku, tak ada orang lain di sana. Hanya ada aku, dan dia.” Setelah itu, kamu menatap mataku dengan tajam. Matamu yang bening menyiratkan suatu hal padaku.
“Apa?” tanyaku refleks.
“Satu hal lagi, aku tidak suka kalau orang itu menyanyi untuk orang lain.”
Aku mengernyitkan keningku. Apa maksudmu, Raga?
“Batalkan penampilanmu di konser ini, ya, Na.” jawabnya tiba-tiba, sepertinya kamu memang bisa membaca pikiranku.
“Kamu gila!” aku menampik keras tanganmu, kamu tampak sangat kaget. “Sudah kubilang ini impianku sejak dulu, Ga!”
“Kumohon, Indiana. Aku tak ingin sesuatu terjadi padamu karena hal ini…” suaramu terdengar memelas.
“Kamu bilang suaraku bagus!” aku mengotot.
“Bagus, memang suaramu sangat bagus.”
“Lalu kenapa?! Apa maksudmu bilang begitu?!” bilang saja, kalau suaraku memang bagus, tapi tak sebagus itu untuk layak menyanyi di depan hadapan para tamu-tamu konser kali ini!
Kamu tiba-tiba mematung di hadapanku, sorot matamu sedih. “aku—mohon, Na..” lalu kamu kembali melihat kea rah mataku. “Aku tidak rela suaramu yang merdu itu—diperdengarkan kepada orang-orang yang tidak mengerti arti dari sebuah nyanyian.”
Aku menghela napas panjang., lalu berbalik menuju ke tempat duduk untuk mengambil tasku dan bermaksud keluar dari ruangan ini. “Jangan egois, Ga!” aku protes saat tiba-tiba kamu kembali menggenggam tanganku dengan keras, tidak membiarkanku pergi dari ruangan itu. Aku berontak, entah kenapa aku jadi takut melihatmu, Raga. Ini tidak seperti dirimu yang biasanya!
Aku meronta-ronta, namun kamu mengunciku, memelukku dengan lembut, namun kokoh. “Kumohon, Na. Tenang, dan menyanyilah. Menyanyilah di sampingku, di dalam dekapanku. Sekali ini saja.” Ia mulai menciumi punggung leherku dengan lembut—apakah kamu galau?
“Kumohon, Na. sekali saja.”
Aku berpikir sejenak. Kamu ini kenapa? Tapi rasa kagumku terhadapmu membuatku luluh, aku tak tega melihatmu begitu memelas seperti kali ini. Akhirnya aku menyanyikan sebait lagu untukmu. Dan kamu mulai tenang, menutup mata, dan tersenyum.
“Terima kasih.” Kamu bergumam. “Suaramu yang terindah, untukku.”
Aku hanya tersenyum canggung.
“Suaramu itu… jangan kamu perdengarkan kepada orang lain ya? Jangan biarkan mereka tahu suara indahmu, nanti kamu hanya akan menjadi alat untuk memperkaya diri mereka sendiri.” Lanjutmu. Aku masih tidak mengerti maksudmu, sebenarnya.
“Aku akan tetap menyanyi di konser ini, Ga. Aku gak akan mundur,” aku bersikeras.
Seketika raut wajah Raga berubah menjadi sedih lagi. “Na, aku tidak mau terjadi apa-apa padamu..”
“Berhenti mengaturku, Raga! Kamu pikir kamu siapa?!” aku akhirnya tidak bisa membendung kejengkelanku.
“Aku penggemarmu. Nomor satu.” Kamu tersenyum. “Dan kamu hanya boleh menyanyi untukku, Na.” kali ini senyummu agak berbeda. Tatapan matamu kosong, tapi sangat jelas terlihat bahwa kamu sangat cemburu.
***
30 menit kemudian, di ruangan yang sama.
“Indiana? Kamu di sini?” Tanya seorang gadis yang sama-sama akan menjadi penyanyi di konser Tribute ini. “Aku mau pinjam maskaramu donk, di ruang rias gak ada yang bening soalnya.”
Gadis itu celingukan mencari temannya sesama penyanyi. “Naaa?” panggilnya lagi. Ia menemukan bahwa sepertinya dirinya sendirian di ruangan konser ini. Tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu. Ia terkesiap, menoleh ke arah kakinya yang menggunakan stiletto tersebut, dan menjerit sejadi-jadinya.
Ia nyaris pingsan, menemukan seorang gadis tergeletak tak bernyawa dengan darah yang membuat gaun merah marunnya semakin menyala—dengan seorang pria yang juga tak bernapas, memeluk erat di sampingnya, dengan sebilah pisau berlumuran darah di tangannya.
***
Dengan ini, tidak ada yang bisa mendengar suara merdumu lagi… selain aku—begitu pikirmu.
 ***

Peluk Emma

Oleh: Irene Wibowo
Twitter : @sihijau

" Aku sayang ayah," bisik Emma sambil memelukku.
" Ayah juga. Sekarang tidur ya. Sudah malam."

Peri kecil, aku selalu merindukanmu.
" Ayah, siapa yang paling ayah idolakan?" tanya Emma.
" Tentu, Emma selalu jadi idola ayah."
Aku selalu ingat pertanyaannya saat kita bermain bersama. Bertapa bahagianya aku menjadi seorang ayah.

****

"Dan pemenang untuk kategori penyanyi terbaik adalah EMMA SMITH" ujar pembaca nominasi itu. Aku bertepuk tangan sekerasnya-kerasnya. Emma berdiri dan langsung memelukku erat-erat. Bertapa
bahagianya dia.
" Kau selalu jadi idolaku Emma, " bisikku padanya.
" Terima kasih ayah,"balasnya.
" Terimakasih. Kemenangan ini aku berikan untuk ayahku tercinta. Ayah, kau fans pertamaku, yang telah membuatku berani menggapai mimpiku, hingga sekarang aku berada disini. Ini untukmu ayah, " ujar  Emma sambil melambaikan tangan dan memberikan ciuman jauh padaku. Bertapa bangganya aku pada peri kecilku itu.

****
Mungkin,sekarang memang saatnya aku harus mengembalikannya.  Penyakit merengut
mimpinya, hingga akhirnya dia harus menyerah.  Malam itu, dia berbaring lemas di kamarnya,
sambil menangis.

" Ayah,Terima kasih.  Maafkan  aku tidak bisa jadi idola terbaik untukmu,
" bisiknya sambil memelukku untuk  terakhir kali. Pelukkan hangat yang tidak
pernah bisa aku lupakan. Kau tahu kenapa aku mengidolakanmu? Karena pelukkanmu
keajaiban terindah dalam hidupku. Emma, semoga kau berbahagia disana.
" Ayah, ayah, aku menang!!!"